Ada 1.000 Cara Selamatkan APBN, Tetap BBM Harus Naik

Ada 1.000 Cara Selamatkan APBN, Tetap BBM Harus Naik

- detikFinance
Sabtu, 10 Mei 2008 10:15 WIB
Ada 1.000 Cara Selamatkan APBN, Tetap BBM Harus Naik
Jakarta - APBN bisa diselamatkan dengan 1.000 opsi jika ingin mengurangi subsidi. Namun harga BBM tetap harus naik karena bahan bakar ini sudah semakin langka di dunia sehingga harganya cenderung naik.

Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan ada dua alasan utama kenapa BBM harus naik. Pertama, BBM adalah barang langka karunia Tuhan yang hanya dimiliki di beberapa negara. "Dan di Indoensia harga BBM lebih murah dari Aqua padahal ini barang yang susah dicari," kata Faisal dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (10/5/20080.

Kedua, subsidi BBM saat ini lebh banyak dinikmati orang kaya. Perbandingannya 10% orang kaya menikmati 45% BBM subsidi, sementara 10% orang miskin menikmati BBM subsidi kurang dari 1%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penyelesaian orang miskin penyebab utamanya bukan BBM, tapi karena salah urus, pemerintah gagal memerangi kemiskinan, tidak bisa menciptkan lapangan kerja dan sektor pertanian terpuruk," ulas Faisal.

Faisal secara gamblang menjelaskan apa yang disebut dengan tekanan APBN, yakni dana yang dikeluarkan harus lebih besar dari yang sudah dianggarkan. Akibatnya defisit membengkak, kemudian utang makin banyak, tingginya beban utang inilah yang akan mengganggu kesinambungan fiskal.

"Untuk selesaikan kemiskinan jangan membelenggu harga BBM," tukas Faisal.

Indonesia yang lebih baik dari Kamboja atau Timor Leste dinilai telah memanjakan masyarakat lewat cara yang tidak mendidik dengan memberikan harga BBM murah.

Di Kamboja harga BBM sebesar US$ 1,23 per liter dan Timor Leste US$ 0,87 per liter sedangkan Indonesia yang lebih kaya hanya menjual US$ 0,49 per liter.

Diakui Faisal ada dua negara di dunia yang harga BBM-nya lebih murah dari Indonesia yakni Iran dan Venezuela. Iran karena sumber minyaknya yang berlimpah namun kini pun pemerintahnya telah mengakui beratnya mensubsidi BBM.

Sedangkan Venezuela karena pemerintahnya memilih kebijakan populer tapi itu justru membodohkan rakyat miskin. "Venezuela akan jauh lebih efektif kalau BBM dijual Rp 10.000 per liter lalu dijual ke luar negeri dan hasilnya diberi ke rakyat ketimbang rakyat dininabobokan dengan harga murah," ujar Faisal.

Salah urus negara menurut Faisal telah membuat begitu kompleks permasalahan ekonomi dan negara. Sebagai akibat kenaikan BBM, Faisal menekankan harus adanya kebijakan yang memberdayakan orang miskin. (ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads