Harga minyak tahun depan akan terus menyurut hingga US$ 80 per barel meski saat ini harga minyak sudah mencapai di atas US$ 125. Lho kok bisa?
Menurut analis Lehman Brothers harga minyak bisa kembali turun karena permintaan dunia yang melemah dan negara eksportir besar yakni Arab Saudi akan memompa lebih banyak minyak dari perut bumi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini jumlah produksi minyak Arab Saudi sekitar 10 juta barel per hari.
Laporan Lehman ini berbeda jauh dengan prediksi Goldman Sachs yang melaporkan harga minyak bisa menembus US$ 200. Hal ini terjadi karena negara pengekspor minyak mempertahankan produksinya.
Memang, hanya waktu yang bisa membuktikan siapa yang benar, Lehman atau Goldman Sachs. Analis Lehman James Crandell menyebutkan sejumlah analisis yang memperkuat bahwa harga minyak akan menukik tajam.
Pertama permintaan minyak China yang meningkat gara-gara pelaksanaan Olimpiade bisa diserap oleh pasar. Kemudian yang kedua Iran masih memiliki cadangan minyak sebanyak 28 juta barel yang belum disuling dan dimurnikan, dan kini tengah menunggu dipasarkan.
"Jika 28 juta barel ini sampai masuk di cadangan minyak mentah Amerika, di pasar ini bakal banyak pihak yang kalah dalam kontrak minyak," ujar James Crandell, analis pasar energi dari Lehman seperti dikutip Forbes, Minggu (11/5/2008).
Arab Saudi juga diperkirakan akan menaikkan produksinya setelah pesta pemilihan presiden di AS selesai. Jika Arab Saudi membuka keran minyak, dalam kata lain, harga minyak akan turun.
"Suka ada sejarahnya dalam peningkatan produksi. Produksi minyak selalu meningkat beberapa bulan setelah pemilihan presiden AS," ujar Crandell.
(ddn/ddn)










































