"Akan kami push selesai tahun ini, karena beberapa badan usaha itu yang paling memungkinkan," kata Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, di kantornya, Selasa (13/5/2008).
Sementara mengenai pembentukan holding perbankan, ia menyatakan saat ini belum terlalu mendesak untuk diselesaikan tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia menyatakan mengenai opsi yang akan diambil terkait peraturan SPP tersebut, BUMN perbankan hanya akan dibentuk holding tanpa ada merger.
"Dan saat ini memang belum ada skema merger di antara bank-bank tersebut," ujar Sofyan.
Namun, menurut Deputi Menteri Negara BUMN bidang Perbankan dan Jasa Keuangan, Parikesit Soeprapto, kajian pembentukan holding perbankan saat ini terus dibahas.
"Kami targetkan bulan Juni hasil kajiannya sudah bisa diserahkan ke Bank Indonesia," kata Parikesit.
Menurut Deputi Menteri Negara BUMN bidang Jasa Lainnya Muchayat, penggabungan badan usaha untuk mendukung holding yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah sektor farmasi.
"Sebelum dibentuk, sebagai tahap awal Kimia Farma dan Indofarma akan digabungkan. Baru kemudian dibentuk holdingnya," ujar Muchayat.
Namun ia tetap beranggapan perlunya pengkajian terhadap kondisi pasar global yang masih bergejolak saat ini. Tujuannya untuk mengetahui untung-rugi dari penggabungan Kimia Farma dengan Indofarma jika benar-benar dilaksanakan dalam tahun ini.
Sementara untuk pembentukan holding BUMN karya, kementerian telah merampingkan jumlahnya menjadi lima badan usaha.
"Beberapa diantaranya telah digabungkan dengan badan usaha jasa konsultan dalam rangka memperbesar bisnis dan sinergi," tutur Muchayat.
Lima perusahaan penyedia jasa konstruksi pelat merah tersebut antara lain PT Wijaya Karya Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Waskita Karya, PT Nindya Karya dan PT Pembangunan Perumahan (PP). (dro/ir)











































