Para pemda umumnya masih bingung karena mepetnya persiapan dan juga penggunaan data yang lama. Misalnya yang dipertanyakan oleh Pemkab Wonogiri tentang sistem penyaluran BLT.
Menurut Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidi, kepada wartawan di Wonogiri, Kamis (15/5/2008), jika penyalurannya model tahun 2005 maka menimbulkan kerawanan sehingga Pemkab akan menyalurkan dengan model tersendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah memberikan masukan kepada Presiden dan kementerian terkait tentang realisasi BLT itu. Kalau BLT dilakukan seperti sistem yang dulu, akan menjadi masalah. Kalau masih seperti dulu, saya tidak setuju. BLT-nya setuju tapi penyalurannya itu yang perlu dipermasalahkan," ujarnya.
Begug mengatakan, yang tahu persoalan riil di lapangan adalah para pimpinan di daerah seperti dirinya. Lagipula kriteria miskin yang ditetapkan Pemerintah dalam pembagian BLT tahun 2005 cukup bermasalah karena banyak yang salah sasaran. Banyak warga miskin tidak menerima, sedangkan yang lebih mampu justru menerima BLT.
Karenanya Begug mengusulkan BLT diterimakan kepada koperasi masing-masing RT untuk dikembangkan sebagai modal usaha, sehingga tidak habis seketika untuk dikonsumsi. Namun jika Pemerintah pusat bersikeras dana BLT dibagikan kepada masing-masing orang, Pemkab Wonogiri akan menerimanya dengan persyaratan yang ketat.
Penyalurannya di Wonogiri akan disesuaikan dengan kondisi yg ada karena kita tidak ingin di Wonogiri ada gejolak. Penyaluran dan jumlah penerimanya harus sesuai dengan orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Pemkab saat ini mencatat 113.960 KK miskin di salah satu kabupaten termiskin di Jateng tersebut.
"Kalau memang yang membutuhkan lebih banyak dari jatah yang diberikan Pemerintah, ya kita akan minta lebih banyak. Kita punya kriteria miskin lokal. Sistem yang dulu itu tidak sesuai kriteria miskin lokal karena ukurannya tidak jelas. Ukuran miskin di Wonogiri beda dengan miskin di Solo atau di Jakarta," ujarnya. (mbr/qom)










































