Sektor yang paling tinggi adalah sektor pertanian (18 persen), disusul sektor keuangan-real estate-jasa perusahaan (1,8 persen), sektor listrik, gas, air bersih (1,2 persen), sektor pengangkutan, komunikasi (0,6 persen) dan sektor jasa-jasa (0,4 persen).
Hal tersebut disampaikan Slamet Sutomo, Deputi bidang Neraca dan Analis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) dalam jumpa pers di gedung BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Kamis (15/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS juga mencatat sektor-sektor yang mengalami penurunan pertumbuhan yakni sektor industri pengolahan (minus 0,1 persen), sektor perdagangan-hotel-restoran (minus 0,2 persen), sektor pertambangan-penggalian (minus 1,1 persen) dan sektor konstruksi (minus 1,6 persen).
Sektor industri pengolahan mengalami penurunan sebesar minus 0,1 persen dibanding triwulan IV-2007. Penurunan tersebut disebabkan oleh subsektor industri migas dan bukan migas masing-masing sebesar minus 1,1 persen dan minus 0,0 persen.
Slamet pun sempat mengkhawatirkan mengenai peran impor yang terlalu banyak dalam ekonomi ketimbang ekspor barang.
"Kalau secara year on year laju pertumbuhan ekspor 15,03 persen, tapi impornya cukup tinggi 16,78 persen, nah ini perlu diwaspadai," ujarnya.
(ddn/ir)










































