Harga BBM Sulit Ditekan Meski Marjin Laba Pertamina Dipangkas

Harga BBM Sulit Ditekan Meski Marjin Laba Pertamina Dipangkas

- detikFinance
Jumat, 16 Mei 2008 10:17 WIB
Harga BBM Sulit Ditekan Meski Marjin Laba Pertamina Dipangkas
Jakarta - Pengurangan marjin keuntungan Pertamina tidak akan berpengaruh banyak pada penurunan harga BBM. Dalam komponen biaya pengolahan BBM, Pertamina hanya bisa mengontrol maksimal 10% saja.

Hal ini karena sebagian besar komponen biaya pengolahan BBM adalah berupa biaya minyak mentah yang pergerakannya diluar kuasa Pertamina.
 
Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, Pertamina hanya bisa mengontrol 8,2% dari komponen biaya pengolahan BBM di kilang. Sementara 91,8% komponen lainnya merupakan harga minyak mentah.
 
"Saya beri penjelasan, 91,8% dari biaya pengolahan minyak menjadi BBM itu karena harga minyak dunia. Yang ada di bawah kontrolnya Pertamina itu hanya 8,2%. Jadi kalau pun kita mengurangi keuntungan, harga itu tidak akan berbeda, hanya maksimal 10%," katanya di Gedung MPR/DPR, Kamis (15/5/2008) malam.
 
Ia menjelaskan, dalam struktur biaya pengolahan BBM Pertamina, 91,8% merupakan biaya minyak mentah. Sedangkan lainnya terdiri dari 4,5% biaya pengolahan, 2,7% biaya refinery fuel (bahan bakar kilang), 0,9% biaya depresiasi, dan 0,1% biaya interest.
 
Sementara komponen harga jual BBM di masyarakat sebagai berikut. Biaya pokok produksi sebesar 85%, biaya penyimpanan, handling dan distribusi sebesar 2%, marjin SPBU sebesar 2%, dan biaya lain-lain sebesar 11%.
 
Contohnya perhitungan harga Premium pada April 2008 yang dihitung dengan ICP US$ 95 dan alpha 9%. Biaya pokok produksinya sebesar Rp 6.641, biaya penyimpanan, handling dan distribusi sebesar Rp 170, marjin SPBU Rp 180, dan biaya lain-lain Rp 835.
 
Semua biaya tersebut menjadikan harga keekonomian Premium berada dikisaran Rp 7.826 per liter. Dengan harga jual yang dipatok Rp 4.500, artinya beban subsidi pemerintah adalah Rp 3.326 per liter. Jika konsumsi Premium dalam sebulan adalah 1,4 juta KL, maka subsidi Premium dalam sebulan Rp 4,7 triliun.
 
Dalam rapat tersebut juga mencuat agar Pertamina meninggalkan kebiasaan impor dan mengambil minyak dari dalam negeri saja agar biaya minyak mentah lebih murah.
 
Tapi bagi Ari, kedua pilihan itu sama saja, karena Pertamina membeli minyak mentah tersebut dengan harga pasar internasional.
 
"Produksi lokal atau impor sama saja, karena Pertamina membeli minyak untuk diolah dengan harga pasar internasional. Dengan ICP yang dasarnya pasar internasional, dimana untuk Mei ini harga ICP yang ditetapkan pemerintah untuk minyak yang digunakan pertamina seharga US$ 109," tambahnya.
 
Ia juga menampik pendapat bahwa Pertamina mendapat keuntungan lebih dengan kenaikan harga BBM nanti.
 
"Pertamina nggak dapat apapun. Karena harga dasarnya pun sudah 8000-an tanpa subsidi. Jadi memang dari sananya sudah tinggi," ujarnya.
 

  (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads