Harga Minyak Rekor Baru, Dekati Level US$ 128

Harga Minyak Rekor Baru, Dekati Level US$ 128

- detikFinance
Sabtu, 17 Mei 2008 13:24 WIB
Harga Minyak Rekor Baru, Dekati Level US$ 128
New York - Harga minyak mentah dunia di akhir pekan ini kembali melonjak dan mendekati level US$ 128 per barel. Investor semakin berspekulasi di komoditas ini karena imbal hasil yang lebih menyenangkan ketimbang di pasar finansial.

Pada perdagangan Jumat (16/5/2008) di New York, kontrak utama minyak jenis light pengiriman Juni sempat melonjak hingga US$ 127,98 per barel. Kontrak ini akhirnya ditutup naik 2,17 dolar ke level US$ 126,29 per barel.

Di London, minyak jenis Brent pengiriman Juni juga sempat melonjak ke level tertingginya di US$ 126,34 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 2,36 dolar menjadi US$ 124,99 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lonjakan harga minyak mentah ini terjadi setelah Goldman Sach memberikan proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan terus tumbuh sehingga permintaan minyak pun akan terus meningkat. Goldman memprediksi harga minyak akan tembus US$ 141 per barel, atau meningkat dari proyeksi semula US$ 107.

Proyeksi Goldman sebelumnya tak meleset. Pada tahun 2005, Goldman memprediksi bahwa harga minyak mentah dunia akan tembus US$ 100 per barel. Sementara awal bulan ini, analis Goldman memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus US$ 150-200 per barel dalam 2 tahun ke depan.

Harga minyak juga terdorong oleh spekulasi tetang kenaikan impor minyak China, yang kini merupakan konsumen energi terbesar kedua di dunia setelah AS.

"Ada indikasi PetroChina akan meningkatkan impornya karena gempa dahsyat di Sichuan. Suplai di wilayah tersebut sangat ketat, pipa-piha beroperasi dengan kapasitas yang berkurang dan generator cadangan diperlukan untuk menopang ketiadaan  pasokan listrik," kata Eric Wittenauer dari Wachovia Securities seperti dikutip dari AFP, Sabtu (17/5/2008).

Pasar tidak mengindahkan pengumuman dari AS yang akan menunda pengapalan dari cadangan minyak strategisnya pada semester II tahun ini setelah Kongres meluluskan UU-nya, dalam rangka meredam harga minyak. Keputusan itu akan berdampak pada 13 juta barel minyak mentah.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads