Namun nampaknya, kejayaan produk-produk murah China ini akan segera berakhir. Karena buruh imigran di China yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan kini mulai melakukan pemberontakkan.
Menurut Alexandra Harney, penulis buku "The China Price: The True Cost of Chinese Competitive Advantage", pasokan tenaga kerja murah yang biasanya membanjiri Guangdong dan propinsi di Selatan mulai menipis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"10 sampai 15 tahun lalu para buruh mengantre di luar pagar. Mereka akan sangat beruntung kalau bisa bekerja di pabrik. Sekarang banyak pabrik yang saya ketahui mengiming-imingi bonus pada buruhnya agar mau mengajak anggota keluarga mereka untuk turut bekerja juga di pabrik itu," kata Harney seperti dikutip AFP, Minggu (18/5/2008).
Ia juga mengemukakan, tingkat gaji pekerja di China kini mulai meningkat hingga 20 persen per tahun. Ditambah lagi naiknya harga bahan baku, keduanya membuat sektor manufaktur mulai terdesak.
"Jelas sekali, tekanan bekerja di pabrik China dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan gaji yang harus dibayar, dan makin banyak pekerja yang sadar bahwa mereka kini harus lebih dihargai," jelasnya.
Melejitnya Sektor ekspor China merupakan sejarah sejak negeri tirai bambu ini membuka pintu ekonominya sejak 30 tahun lalu. Banyak perusahaan asing yang menggandeng pabrik lokal atau membangun pabrik sendiri untuk membuka berbagai produk mulai dari pakaian dalam hingga komputer. (lih/iy)











































