Medco Agro akan mengembangkan bahan bakar nabati (biofuel) berbasis tebu di Merauke. Tidak hanya membangun pabriknya, Medco juga akan membuka lahan untuk menanam tebunya.
Pimpinan Grup Medco Hilmi Panigoro menjelaskan, investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabriknya sekitar US$ 300 juta. Sementara investasi untuk penanaman tebunya malah lebih mahal lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menanam tebu termasuk cepat. Tidak sampai setahun, karenanya kita harapkan kira-kira 5 tahun sudah bisa on stream (produksi)," katanya disela diskusi interaktif mengenai energi terbarukan di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Senin (19/5/2008).
Alasan memilih Merauke karena di lokasi inilah tersedia lahan yang cukup luas untuk menanam tebu tanpa harus membuka hutan.
Ia menuturkan dalam feasibility study sebelumnya perusahaan berencana mengembangkan bahan bakar nabati berbasis singkong. Tapi ternyata belakangan harga singkok naik hingga tiga kali lipat. Padahal dalam dikajiannya hanya memprediksi kenaikan harga singkong hingga dua kali lipat.
"Dengan kenaikan tiga kali lipat, memang kita tidak rugi, tapi marginnya makin tipis," jelasnya.
Sementara itu anak usaha Medco Group, PT Medco Power Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga angin di Uluwatu, Bali berkapasitas 10 MW.
Meski kapasitasnya kecil, tapi biaya pembangunan pembangkit listrik tenaga angin jauh lebi besar dari pembangkit biasa. Jika pembangkit tenaga batubara hanya butuh US$ 1 juta untuk investasi per 1 MW, maka untuk pembangkit yang bertenaga angin butuh setidaknya US$ 3 juta.
Maka untuk membangun 10 MW, investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 30 juta.
Menurut Presiden Direktur Medco Power Indonesia Fazil E Arifin, saat ini pihaknya masih melakukan studi mengenai arus angin di lokasi setempat.
"Karena angin kan nggak stabil. Kadang kencang, kadang lemah. Makanya kita studi dulu selama setahun ini," katanya.
Untuk mengakali arus angin yang tidak stabil, pembangkit listrik akan dibangun bersama pembangkit berbahan nabati atau gas. Sehingga, pembangkit bahan bakar nabati atau gas ini bisa menopang pasokan listrik ketika angin sedang lemah.
Setelah melakukan studi selama setahun, baru pembangkit akan mulai dibangun tahun depan. Masa pembangunannya sekitar 4 tahun.
Pasokan listrik di Bali saat ini mencapai 560 MW. Listrik tersebut dipasok PLTGD Pesanggaran, PLTGU Gilimanuk, PLTGU Pemaron dan PLTGU Paiton (Jawa Timur). Sebesar 200 MW diantaranya dipenuhi PLTGU Paiton, sedangkan kapasitas energi listrik di Bali saat beban puncak adalah 455 MW, sehingga tersisa 105 MW.
(lih/ddn)











































