Meski kapasitasnya kecil, tapi biaya pembangunan pembangkit listrik tenaga angin jauh lebi besar dari pembangkit biasa. Jika pembangkit tenaga batubara hanya butuh US$ 1 juta untuk investasi per 1 MW, maka untuk pembangkit yang bertenaga angin butuh setidaknya US$ 3 juta.
Maka untuk membangun 10 MW, investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 30 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena angin kan nggak stabil. Kadang kencang, kadang lemah. Makanya kita studi dulu selama setahun ini," katanya usai diskusi interaktif mengenai energi terbarukan di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Senin (19/5/2008).
Untuk mengakali arus angin yang tidak stabil, pembangkit listrik akan dibangun bersama pembangkit berbahan nabati atau gas. Sehingga, pembangkit bahan bakar nabati atau gas ini bisa menopang pasokan listrik ketika angin sedang lemah.
Setelah melakukan studi selama setahun, baru pembangkit akan mulai dibangun tahun depan. Masa pembangunannya sekitar 4 tahun.
Pasokan listrik di Bali saat ini mencapai 560 MW. Listrik tersebut dipasok PLTGD Pesanggaran, PLTGU Gilimanuk, PLTGU Pemaron dan PLTGU Paiton (Jawa Timur). Sebesar 200 MW diantaranya dipenuhi PLTGU Paiton, sedangkan kapasitas energi listrik di Bali saat beban puncak adalah 455 MW, sehingga tersisa 105 MW. (lih/ddn)










































