IRIF 2008 Galang Proyek Senilai US$ 19 Miliar

IRIF 2008 Galang Proyek Senilai US$ 19 Miliar

- detikFinance
Rabu, 21 Mei 2008 15:11 WIB
IRIF 2008 Galang Proyek Senilai US$ 19 Miliar
Jakarta - Indonesian Regional Investment Forum (IRIF) 2008 menggalang 200 proyek senilai US$ 18,9 miliar dari 35 daerah yang ikut berpartisipasi dalam acara yang akan dilangsungkan pada 26-27 Mei 2008 mendatang.

"Total nilai proyek dari 35 daerah peserta sekitar US$ 18,9 miliar. Jumlahnya sekitar 200 proyek," ungkap CEO Global Initiative, Tony Gourley, usai konferensi pers di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu 21/5/2008).

IRIF merupakan acara yang digalang untuk mempertemukan antara proyek-proyek yang diajukan oleh daerah-daerah peserta dengan investor asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investor asing yang ikut berpartisipasi sekitar 300 investor dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Korea, Timur Tengah dan sebagainya," ulas Tony.

Rencananya, dalam pertemuan tersebut proyek-proyek yang diajukan oleh daerah peserta akan disuguhkan pada investor-investor asing yang tertarik untuk masuk.

Dari total 200 proyek senilai US$ 18,9 miliar tersebut, terbagi ke dalam 4 sektor yaitu agribisnis, infrastruktur, pertambangan & energi dan properti & tourism.

"Nilai proyek paling besar adalah proyek yang diajukan oleh daerah Bojonegoro sebesar US$ 4 miliar untuk proyek oil refinery," ujar Tony.

Sementara sektor yang memiliki nilai paling besar adalah di sektor infrastruktur. Nilainya mencapai US$ 9 miliar.

Contoh proyek infrastruktur yang diajukan antara lain proyek pembangunan Malay Special Economic Zone yang diajukan oleh daerah Kutai Timur sebesar US$ 2,7 miliar. Kemudian ada juga proyek pembangunan jembatan Bintan sebesar US$ 360 juta dan lain sebagainya.

"Total nilai proyek yang kami himpun melebihi target semula yang sebesar US$ 6-8 miliar. Dari segi jumlah proyek pun meningkat drastis dibanding IRIF 2006 yang sebanyak 60 proyek saja," ungkap Tony.

Dewan Penasihat IRIF Tanri Abeng menambahkan kebangkitan konglomerasi di Indonesia harus bisa menjembatani investor asing di Indonesia, salah satunya dengan membentuk aliansi-aliansi antara konglomerasi dan pengusaha internasional dengan pengusaha asing.

"Tujuannya agar masuknya gelommbang investasi tersebut tidak saling bertentangan dengan kepentingan pengusaha nasional yang saat ini sedang bangkit," ujarnya.

Investor asing menurut Tanri Abeng berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia karena didorong oleh kejenuhan investasi di China sehingga mereka mencari pasar baru di Asia antara lain Indonesia.

"Di sisi lain, India dalam pandangan investor asing belum terlalu menarik, jadi negara seperti Indonesia sebenarnya potensial untuk mengundang investor tersebut. Jadi kita harus mempersiapkan diri untuk bisa menerima masuknya investor-investor asing ini," ujarnya.
(dro/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads