BBM Naik, Inflasi Jebol Jadi 11,2%

BBM Naik, Inflasi Jebol Jadi 11,2%

- detikFinance
Rabu, 21 Mei 2008 22:52 WIB
BBM Naik, Inflasi Jebol Jadi 11,2%
Jakarta - Inflasi tahun ini bakal melejit di level 11,2 persen menyusul rencana pemerintah menaikkan BBM dan kenaikan harga pangan. Angka ini jauh meleset dari perkiraan APBN-P 2008 yang sebesar 6,5 persen.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat jumpa pers di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (21/5/2008).

"Proyeksi terakhir kami berdasarkan skenario terbaik kita lihat inflasi tidak terelakkan karena kenaikan harga pangan dan BBM yaitu menjadi di level 11,2 persen," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menkeu juga mengatakan untuk nilai tukar diperkirakan menjadi lebih kuat di level Rp 9.000/US$ dengan gejala pelemahan dolar AS yang terjadi sampai saat ini. Sementara untuk SBI 3 bulan diperkirakan menjadi 8,5 persen.

"Kalau untuk harga minyak atau ICP (harga minyak mentah Indonesia), sampai akhir tahun diperkirakan rata-ratanya adalah US$ 110 per barel, dan kita lihat di akhir tahun harga minyak akan menyentuh US$ 120 per barel. Untuk lifting kita usahakan tetap 927.000 barel per hari," ucapnya.

Untuk konsumsi minyak bersubsidi pada APBN-P 2008 diperkirakan menjadi 36,2 juta kiloliter per tahun, dan Menkeu mengatakan jika tidak dilakukan program penghematan seperti dengan smart card ataupun kartu kendali, maka konsumsi BBM bisa mencapai 39 juta kiloliter.

Konsumsi BBM pada bulan April 2008 sangat meningkat untuk premium karena perbedaan harga yang sangat besar dengan BBM non subsidi.

Karena itu dibutuhkan upaya pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dengan program-program penghematan. Dimana untuk smart card dan kartu kendali, uji coba dan pendataan konsumsinya akan dimulai pada September 2008.

Sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 6 persen, karena berbagai tekanan yang terjadi pada perekonomian.
Untuk defisit Menkeu mengatakan dengan membaiknya indikator makro, defisit
bisa ditekan di level 1,8 persen menjadi Rp 82,3 triliun. (dnl/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads