Harga Minyak Mental ke US$ 133

Harga Minyak Mental ke US$ 133

- detikFinance
Kamis, 22 Mei 2008 08:09 WIB
Harga Minyak Mental ke US$ 133
New York - Harga minyak terus melambung yang kini berada di level US$ 133 per barel. Harga minyak makin menggila setelah pemerintah AS melaporkan secara tak terduga terjadinya penurunan stok BBM-nya di tengah tingginya tekanan harga minyak dunia karena  permintaan dari China.

Perdagangan di bursa berjangka New York pada 21 Mei 2008 mencatat pengiriman harga minyak jenis light sweet bulan Juli naik US$ 4,10 ke rekor baru di posisi US$ 133,34 per barel. Harga minyak di New York pada intraday sempat melompat ke US$ 133,82 per barel.  

Begitu juga dengan harga minyak di London jenis Brent North Sea untuk pengiriman bulan Juli naik US$ 4,86 menjadi US$ 132,70 per barel. Dalam intraday harga minyak di London sempat menyentuh US$ 133,34 per barel.  

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dikutip AFP, Kamis (22/5/2008), pasar begitu cemas dengan penurunan stok BBM di AS yang diluar dugaan. Departement of Energy (DoE) AS pada Rabu waktu AS (21/5/2008) mengumumkan stok minyak mentah di AS per 16 Mei sebesar 320,4 juta barel. Sedangkan persediaan BBM anjlok 800 ribu barel menjadi 209,4 juta barel yang jauh dari perkiraan pasar yang memprediksi stok BBM akan ada di kisaran 250 ribu barel.

Masalah pasokan BBM di AS ini menjadi berita yang sangat sensitif, apalagi AS kini juga memasuki musim panas yang akan dimulai Senin pekan depan dengan libur Memorial Day.

Masyarakat di AS juga mulai membeli lebih sedikit BBM karena harga minyak yang terus menembus rekor baru. Perubahan kebiasaan pembelian BBM ini makin menunjukkan adanya penurunan belanja masyarakat. Padahal belanja BBM masyarakat salah satu faktor penggerak ekonomi.

"Data persediaan minyak di AS akan mengalami lebih banyak tekanan ke depannya karena harga minyak yang terus tinggi di pasar berjangka," demikian analisa dari IFR.

Melambungnya harga minyak ini juga tersulut oleh pernyataan the Fed yang menurunkan pertumbuhan ekonomi AS yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia.

The Fed pada Rabu waktu AS (21/5/2008) mengumumkan pertumbuhan ekonomi dikisaran 0,3%-1,2%, proyeksi ini lebih rendah dari yang dibuat Januari lalu sebesar 1,3%-2%. Bank Sentral memasukkan tingginya harga minyak sebagai faktor yang membebankan dalam pertumbuhan ekonomi AS.

Harga minyak terus merangkak tinggi sejak awal 2008 ketika menyentuh level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya.

Melejitnya harga minyak juga dipicu oleh melemahnya dolar AS yang membuat harga komoditas di AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Analis juga memasukkan faktor gempa di China yang akan meningkatkan permintaan minyak untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit diesel di wilayah yang terkena gempa.

"Secara fundamental harga minyak masih akan dipengaruhi pasokan BBM di AS menjelang libur panas serta naiknya permintaan untuk pembangkit diesel di China disamping kebutuhan negara itu menjelang Olimpiade," kata Nimit Khamar, analis dari Sucdan.

Sementara pimpinan OPEC Abdalla Salem El-Badri pada Rabu (21/5/2008) mengatakan khawatir melihat volatilitas yang sangat tinggi di pasar minyak.

"OPEC akan terus berusaha keras menjaga stabilitas di pasar minyak," katanya.

OPEC menegaskan pasokan minyak di pasar sangat cukup dan kenaikan harga minyak merupakan aksi spekulasi bukan karena masalah pasokan dan permintaan.                

(ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads