Pada perdagangan Kamis (22/5/2008) di Singapura, kontrak utama minyak jenis light pengiriman Juli sempat melonjak hingga US$ 135,04 per barel, sebelum akhirnya US$ 134,87 per barel. Di New York kemarin, kontrak ini ditutup melonjak hingga 4,10 dolar ke level US$ 133,17 per barel.
Sementara minyak Brent untuk kontrak Juli juga melonjak hingga 1,80 dolar ke level US$ 134,50 per barel, atau memecah rekor tertinggi sebelumnya di US$ 133,34 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga minyak juga diuntungkan dari terus melemahnya dolar AS," demikian komentar dari Commonwealth Bank of Australia seperti dikutip dari AFP, Kamis (22/5/2008).
Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak mentahnya untuk pekan yang berakhir 16 Mei anjlok 5,4 juta barel menjadi 320,4 juta barel. Cadangan bensin anjlok 80.000 barel menjadi 209,4 juta, dari ekspektasi semula kenaikan cadangan 250 ribu barel.
Kabar cadangan minyak mentah dan bensin AS itu menjadi sangat sensitif bagi pasar. Apalagi AS akan menghadapi libur musim panas dalam beberapa hari kedepan, yang akan meningkatkan permintaan.
"Data cadangan minyak AS akan terus memberi tekanan pada harga minyak mentah yang kini sudah berada di rekor tertingginya," ujar IFR dalam catatan kepada kliennya.
(qom/ddn)










































