Dari penelusuran detikFinance di Kecamatan Wonokromo Surabaya, Kamis (22/5/2008) masih banyak keluarga miskin yang seharusnya menjadi prioritas untuk mendapat bantuan subsidi BBM dari pemerintah malah justru tidak mendapatkan kartu dan tidak masuk dalam daftar penerima BLT.
Kenyataan ini dialami Tiani (45), warga Gunungsari Sawah 32 Surabaya yang mengaku sejak program BLT tahun 2005 lalu dan tahun ini, janda beranak satu ini tidak masuk dalam daftar penerima BLT sebesar Rp 100 ribu perbulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini Tiani menjalani hidup di rumahnya yang berlantai tanah berdinding anyaman bambu dengan ukuran 4X8 meter. Wanita yang tiap hari hanya menggantungkan hidup dengan menjadi buruh cuci baju panggilan. Selain itu dia juga mencoba menambah penghasilan untuk kebutuhan tiap harinya dengan berjualan lontong mie di depan rumahnya.
"Kalau lagi untung, saya bisa mengantongi uang Rp 20 ribu selama satu minggu, itu kalau ramai yang beli. Tapi kalau sepi ya rugi mas," ungkapnya lirih.
Tiani kini hanya bisa berharap agar dirinya tahun ini bisa mendapatkan uang bantuan untuk menambah modal dagangannya.
"Kalau bisa tahun ini bisa dapat uang bantuan, lumayan bisa buat tambah modal jualan, dan hasilnya bisa buat beli tempat tidur yang sudah tua," harapnya.
Hal yang sama juga dialami Muhammad Hasan (60) warga Gunungsari Sawah 42 Surabaya. Pria yang tiap hari membantu sang istri berjualan gorengan ini mengaku juga sudah dua kali ini tidak masuk dalam daftar penerima BLT.
Bapak 6 anak ini, sebelumnya berprofesi sebagai sopir truk, namun sejak kenaikan BBM tiga tahun lalu dirinya di PHK dan mengakibatkan keenam anaknya tidak mampu melanjutkan sekolah.
"Sekarang uang darimana untuk membiayai sekolah kalau sehari hanya dapat uang Rp 20 ribu. Makanya saya sangat mengharapkan bisa dapat bantuan," keluh Hasan di sela-sela membantu sang istri menggoreng pisang dengan menggunakan kayu bakar.
(bdh/qom)











































