Demikian disampaikan oleh Menneg BUMN Sofyan Djalil ketika ditemui di kantornya, Gedung Garuda, Jakarta, Jumat (23/5/2008).
"Seandainya semua sesuai RKAP ya untunglah mereka (PLN), tapi ada perubahan harga minyak yang luar biasa ini yang membuat mereka tidak untung tapi yang penting PLN makin hari makin baik," ujarnya.
Untuk ukuran PLN yang merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan minyak, kondisinya memang sulit di tengah harga minyak yang sudah menyentuh US$ 135 per barel.
"Terpaksa bebannya harus tambah, harga batubara juga gila sekarang dan PLN membeli batubara harga pasar. PLN direksi baru melakukan efisiensi Rp 6 triliun tapi Rp 6 triliun tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan kenaikan BBM dan harga batubara," jelasnya.
Sofyan juga mengatakan untuk mengantisipasi kenaikkan harga minyak yang selalu tinggi, PLN juga sudah merencanakan melakukan MFOnisasi atau menggunakan bahan bakar yang lebih murah dibanding bahan bakar jenis HSD (High Speed Diesel).
"Karena penggunaan MFO lebih murah, selisih sekitar Rp 3-4 ribu per liter dibandingkan diesel," katanya.
(dnl/ddn)











































