Venezuela dan Gengsi BBM Murah

Venezuela dan Gengsi BBM Murah

- detikFinance
Selasa, 27 Mei 2008 11:17 WIB
Venezuela dan Gengsi BBM Murah
Caracas - Indonesia dan Venezuela sama-sama produsen minyak. Namun di Venezuela, pemerintahnya gengsi untuk menaikkan harga BBM. Sementara pemerintah Indonesia nekat memilih untuk menaikkan harga BBM untuk mengalihkan subsidi ke rakyat miskin.

Karena gengsinya pemerintah Venezuela, maka di negara Amerika Latin itu, mengisi BBM setangki penuh justru lebih murah dibandingkan sebotol air mineral. Jauh berbeda jika dibandingkan di Indonesia, dimana harga bensin nyaris 2 kali lipat harga air mineral.

Saking murahnya harga bensin di Venezuela, warga justru lebih mencemaskan kenaikan harga pangan ketimbang lonjakan harga minyak mentah di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Venezuela, susu dan tepung yang harganya terus naik, bukan bensin," kata Leandro Otero, pengemudi taksi di Caracas usai mengisi bensin seharga 1 dolar AS atau sekitar 3 bolivars.

Upah minimum di Venezuela ditetapkan 800 bolivars atau sekitar US$ 370 yang setara dengan Rp 3,4 juta. Sementara harga bensin hanyalah 0,1 bolivars atau sekitar 4 sen dolar Rp 3.700 per liternya. Bandingkan dengan harga BBM bersubsidi yang baru saja dinaikkan pemerintah Indonesia menjadi Rp 6.000 per liter untuk premium dan Rp 5.500 untuk solar.

Dengan rendahnya harga BBM di Venezuela, maka pola hidup konsumtif pun terus berlangsung. Warga di negara penghasil minyak terbesar Amerika Latin itu selalu cepat merespons setiap upaya untuk mengubah situasi yang sudah nyaman itu.

"Ada persepsi publik bahwa BBM adalah milik setiap orang dan atas alasan itu, Anda tidak dapat menagih mereka harga yang sesungguhnya sesuai produksi. Dan hasilnya adalah subsidi BBM yang besar," kata ekonom dari Central University of Venezuela, Jose Guerra seperti dikutip dari AFP, Selasa (27/5/2008).

Presiden Venezuela Hugo Chaves sudah tidak menaikkan harga BBM di negaranya selama 9 tahun berkuasa. Hal itu menyebabkan harga BBM di Venezuela lebih murah ketimbang di Arab Saudi yang merupakan penghasil minyak utama dunia.

Sebagai perbandingan, pemerintahan SBY-JK sudah menaikkan harga BBM 3 kali yakni Maret 2008, Oktober 2008 dan yang terbaru adalah per 24 Mei 2008.

Untuk menjaga harga BBM tetap rendah, BUMN perminyakan PDVSA mensubsidi hingga US$ 19 miliar per tahun atau sekitar Rp 176 triliun. Sementara Indonesia mengganggarkan subsidi BBM sekitar Rp 135 triliun.

Venezuela tampaknya masih trauma dengan kejadian demo 'Caracazo' di tahun 1989. Ketika itu, ratusan orang harus tewas setelah aksi demo menolak kenaikan harga BBM yang diumumkan mantan Presiden Carlos Andres Perez, akhirnya berakhir rusuh.

Murahnya harga BBM juga menimbulkan pesatnya pertumbuhan angka kendaraan. Di Venezuela dengan penduduk hanya 4 juta, terdapat 1,8 juta kendaraan. Tak heran, kemacetan parah sering terjadi dengan kecepatan rata-rata kendaraan hanyalah 8 kilometer per jam.

"Di Caracas, 80% jalan publik dipenuhi oleh mobil-mobil pribadi yang hanya mengangkut sekitar 20% penduduk," ujar Leopoldo Gridlock, politisi oposisi yang juga walikota Chacao.

Setiap barel minyak di Venezuela membutuhkan biaya 9 dolar, dan dijual pada US$ 116. Venezuela mengimpor 2,8 juta barel minyak tiap harinya. Jumlah cadangan minyak yang sudah terbukti mencapai 130 miliar barel, dan diperkirakan mencapai 235 miliar barel di tahun 2009.

Dengan harga jual dan subsidi yang rendah, dikhawatirkan kondisi keuangan PDVSA akan semakin menipis. Padahal sejumlah perusahaan minyak lainnya sedang berpesta pora menikmati kenaikan harga BBM.

"Sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan membuang-buang BBM jika Anda bisa mengisi penuh hanya dengan harga 1 dolar. Namun pendapatan PDVSA tidak akan cukup dan BUMN itu kini sedang membuat sebuah lubang keuangan besar," kritik Guerra.

"Harga BBM di Venezuela harusnya naik 50%. Di Venezuela, uang mengalir lewat jari-jari kita, semua menguap," kata Wilson Briceno, manager SPBU di Venezuela.

(qom/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads