Pabrik ArcelorMittal Hamburg berdiri tahun 1969 dan hingga kini tetap bisa menggunakan teknologi tua untuk produksi pabrik bajanya.
Berlokasi di Jalan DradenaustraBe Hamburg, pabrik baja tua ini masih terus berputar dengan memproduksi 1,2 juta baja jenis hot rolled, cold rolled dan galvanized.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teknologi lama masih bisa digunakan asalkan sumber daya manusianya bisa dimaksimalkan," kata CEO ArcelorMittal Hamburg, Lutz Bandusch dalam keterangannya dengan wartawan Indonesia di Hamburg, seperti dilaporkan reporter detikFinance Irna Gustiawati, Selasa (27/5/2008).
Diakui Lutz, sebelum merger dengan Arcelor, pabrik Mittal di Hamburg ini beberapa kali sempat akan tutup. Tapi setelah ada merger tersebut, pabrik baja di Hamburg bisa melakukan transformasi teknologi, pendanaan yang lebih baik dan memiliki pasar yang kuat terutama di Jerman dan Eropa barat.
"Kami tidak memiliki pesaing disini, kami menguasai pasar baja di Jerman dan sejumlah negara Eropa," kata Lutz.
Dengan karyawan sebanyak 586 orang, pabrik baja di Hamburg menyuplai baja ke sejumlah konsumennya seperti Mustad, Firelli yang sebagian besar konsumennya adalah pabrik otomotif.
Selain di Hamburg, ArcelorMittal juga memiliki pabrik di Bremen dan Eisenhuttenstadt Gmbh yang memproduksi flat carbon steel, hot rolled, cold rolled dan galvanized.
Sama seperti pabrik baja di Eropa lainnya, pabrik ArcelorMittal Hamburg juga harus mendatangkan bahan baku bijih besi dari luar negeri sebesar 1 juta ton per tahun.
"Kami memiliki jaringan yang bagus untuk mendatangkan bijih besi seperti dari Kanada dan Brazil," katanya.
Kalau Mittal saja masih sayang membuang pabriknya yang berteknologi tua, kenapa Indonesia justru getol ingin 'membuang' teknologi lamanya di industri baja demi sebuah target kenaikan produksi?
Alasan ini yang sering didengar dalam dua bulan terakhir terkait rencana pemerintah yang akan menjual pabrik baja Krakatau Steel di Banten.
(ir/qom)











































