Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono saat dihubungi di Jakarta, Rabu (28/5/2008).
"Masalah kenaikan harga semen itu tergantung pembicaraan antara produsen dengan para perusahaan angkutan. Namun saya perkirakan kenaikan BBM akan menaikan harga semen 5% sampai 10%," ujarnya.
Selama ini, kata Urip komponen biaya distribusi untuk produk semen mencapai 30%, artinya kenaikan BBM sangat siginifikan terhadap harga semen.
"Kenaikan harga semen biasanya akan lebih rendah dari kenaikan BBM, bahkan kadang-kadang kalau BBM naik harga semen juga bisa turun," ucapnya.
Hingga kini, lanjut Urip, produsen semen masih melakukan pembicaraan mengenai berapa kenaikan yang harus dilakukan menyusul kenaikan BBM.
"Kenaikan harga untuk waktu dekat tergantung para produsen, namun tentunya para pedagang matrial memiliki stok masing," ujarnya.
Urip mengakui untuk besaran berapa kenaikan dari harga semen banyak faktor yang mempengaruhi termasuk faktor jarak angkutan, perusahaan angkutan yang beroperasi dan kesepakatan harga distribusi masing-masing produsen dengan para perusahaan angkutan.
Meskipun begitu, kalangan produsen sepakat belum melakukan revisi target pertumbuhan industri semen bekisar 6% karena kebutuhan semen di pasar domestik sangat besar sehingga kenaikan sebesar 5%-10% diperkirakan tidak akan banyak mempangaruhi penjualan semen.
Produksi semen dari Januari hingga April 2008 mencapai 11,836 juta ton atau mengalami pertumbuhan 16% dari tahun lalu. Sedangkan produksi pada bulan April mencapai 3 juta ton.
(hen/qom)










































