Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama KS Fazwar Bujang dalam acara konferensi pers di Wisma KS, Jakarta, Rabu (28/5/2008).
"Kita sebenarnya tidak butuh cari-cari partner, tapi ini tidak ada kaitannya dengan pemerintah harus lakukan IPO. Soal itu, kami menyerahkan kepada pemerintah dan DPR. Makanya kita ikuti saja, hanya kami memberikan masukan saja," imbuhnya.
Delapan alasan tersebut dikemukakan oleh Fazwar diantaranya:
1. Dengan IPO memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk memiliki saham KS, dan sesuai dengan yang diinginkan dalam UU BUMN.
2. Perusahaan dengan proses IPO lebih terbuka, dibandingkan dengan strategic sale.
3. Masyarakat relatif dimungkinkan untuk mengikuti harga saham dari saham KS, dan proses harga saham itu lebih transparan dan diawasi.
4. Dengan IPO akan terjadi kapitalisasi pasar yang sangat dibutuhkan.
5. IPO lebih mempertimbangkan pada hal yang jangka panjang, dimungkinakan dengan naiknya harga saham, ada kemungkinan melakukan right issue.
6. Hasil dari keuntungan persero dipastikan akan direalisasikan untuk investasi di dalam negeri, yang justru dibutuhkan untuk pengembangan industri baja dalam negeri.
7. Konflik internal lebih bisa ditekan dan diminimalisir karena tidak ada nasional konflik dan masalah ketertarikan global bisa ditekan. Akibat dari konflik tersebut justru akan mengganggu kecepatan pengambilan keputusan perusahaan apabila dilakukan kemitraan strategis.
8. Apabila dilakukan strategic sale, berpeluang mengenai kultur yang tidak sama.
"Karena itu tidak aneh di industri baja yang tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa harus dicaplok dengan perusahaan lain," katanya.
Diluar itu kata Fazwar, KS memiliki potensi mendapatkan pinjaman dari perbankan karena kepemilikan dana tunai (cash flow) yang meningkata darin tahun ke tahun. Dana tunia KS tahun 2008 per Januari mencapai Rp 1,2 triliun naik dari tahun lalu yang hanya Rp 1 triliun.
"Sehingga dengan demikian tidak mustahil kita mendapat pinjaman dari perbankan Rp 11 triliun," katanya.
Kendati demikian, manajemen menyerahkan keputusan pada pemerintah dan DPR. Yang pasti, sejauh ini manajemen belum mendapatkan surat dari Menneg BUMN untuk melakukan diskusi dengan para peminat strategic sale seperti Acelor-Mittal, Bluescope, TataSteel, Essar dan lain.
"Sampai saat ini kita belum mendapatkan instruksi secara tertulis dari Meneg BUMN. Pada saat di DPR Meneg BUMN meminta diskusi kepada mereka yang berminat dengan strategic sale," ungkap Fazwar.
Menurut Fazwar diskusi-diskusi semacam itu dikhawatirkan olehnya membuka polemik baru. Namun kalau pemerintah dan DPR menghendaki pihaknya akan membuka diri.
"Kalau saya sih kita tunggu saja keputusana dari pemerintah dan DPR, tetapi diskusi ini akan menimbulkan polemik lagi," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri baja adalah industri yang sangat strategis," ujar Fazwar mengutip Hillary Clinton.
(hen/qom)










































