"Untuk sekarang ini hingga Juni sampai Juli delivery harga masih akan tetap, kita masih pertahankan tapi Agustus-September kita naikkan," kata Direktur Keuangan PT Krakatau Steel (KS) Irvan K Hakim usai acara konferensi pers di Wisma KS, Rabu (28/5/2008).
Ia mengakui, sekarang ini KS belum menaikkan harga karena beberapa pertimbangan termasuk masalah kontrak dan daya beli konsumen. Misalnya ia mencontohkan untuk baja jenis baja canai panas Hot Rolled Coil (HRC) di pasar internasional mencapai US$ 1.100 per ton diluar biasa bea masuk, pengiriman yang harus ditambah 12% lagi
"Semula kita proyeksikan untuk HRC hanya US$ 800 per ton ternyata lebih dari itu. Di kawasan Asia permintaan baja masih masih cukup tinggi ini yang memicu kenaikan, mulai per 1 April diseluruh dunia bahan baku naik 86,7%," ungkap Irvan.
Namun ia memperkirakan kenaikan baja ini, akan tergantung dengan kemampuan daya beli sehingga kalau daya beli melemah, maka akan secara berantai berdampak pada harga ditingkat bahan baku dan seterusnya.
"Kita selalu berusaha untuk tidak menaikan harga, karena fokus di domestik. Tetapi kalau kenaikan BBM memang tentunya akan berpengaruh dengan ongkos distribusi," ucapnya.
Selama ini menurut Irvan, KS akan melakukan evaluasi harga setiap tiga bulan sekali, karena waktu tiga bulan dinilai cukup untuk mempertimbangkan kenaikan di harga internasional dan daya beli konsumen.
"Untuk harga Agustus belum ada, perkiraan kita setelah itu bisa 10% diatas itu. KS belum memutuskan karena melihat daya belinya, juga melihat dari harga internasional," tambahnya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan faktor bea masuk (BM) baja ke Indonesia relatif rendah dan relatif liberal dibandingkan di negara lain. Hingga kini untuk HRC Indonesia menerapkan BM sebesar 5% saja.
"Di Malaysia lebih terlindungi dengan HRC bea masuknya mencapai 50%. AS saja yang paling maju 24%. India 40%, Iran 18%," imbuhnya.
(hen/qom)











































