Menurut Imad Al Atiqi, anggota Supreme Petroleum Council Kuwait, keluarnya Indonesia dari OPEC nyaris tidak memberikan pengaruh kepada organisasi tersebut.
"Produksi Indonesia sudah lama turun dan hampir tak mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Jadi, keluarnya Indonesia dari OPEC adalah hasil yang normal dari terus turunnya produksi minyak," katanya seperti dilansir kantor berita Kuwait, Kuna, Kamis (29/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarnya Indonesia dari OPEC sebenarnya sudah lama dilontarkan oleh Presiden SBY pada 6 Mei lalu. Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pengembangan Nasional, Presiden SBY mengaku sedang mempertimbangkan keluar dari OPEC mengingat produksi minyak Indonesia yang terus turun.
"Indonesia saat ini bukan lagi negara pengekspor minyak murni, dalam artian ekspor kita lebih banyak dari imporBBM. Tapi kita sekarang juga merupakan negara pengimpor fuel yang tidak sedikit," jelas SBY saat itu.
Sementara Purnomo sebelumnya juga menyatakan, Indonesia kemungkinan baru keluar dari OPEC pada tahun 2009. Ini karena Indonesia sudah terlanjur membayar iuran tahunan OPEC yang sebesar 2 juta euro per tahun.
(qom/qom)











































