Masalah gono-gini yang dimaksud antara lain sejumlah dana yang ditanam Indonesia sejak masa kejayaan produksi minyak pada tahun 1970-an. Jumlah dana tersebut mencapai jutaan dolar. Uang iuran pertahun yang disetor ke OPEC mencapai 2 juta euro.
Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan pers disela Indonesia Petroleum Association di JHCC, Jakarta, Kamis (29/5/2008).
"Kita minta Gubernur OPEC untuk mempelajari aturan-aturannya. Karena kita punya dana di OPEC funds, apakah itu bisa diambil atau tidak. Jadi nggak hanya main keluar saja. Jangan-jangan kalau keluar begitu saja nggak bisa ambil uangnya," katanya.
Untuk tahun ini, Indonesia sudah membayar iuran sebanyak 2 juta euro untuk keanggotaan sampai akhir tahun 2008.
Purnomo mengakui, keluarnya Indonesia dari OPEC salah satunya dipengaruhi perbedaan kepentingan dengan anggota lainnya.
Negara anggota OPEC pada umumnya sangat menikmati kenaikan harga minyak mentah dunia. Sehingga mereka lebih cenderung menjaga produksi agar harga minyak tidak turun.
Menurut mereka, tidak ada alasan bagi mereka untuk menaikkan produksi, karena naiknya harga minyak bukan karena produksi yang kurang. Namun harga minyak makin menggila karena dipengaruhi pelemahan dolar dan isu-isu politik.
"Harga minyak ini naik terus sejak kejadian September 11. Jadi cukup complicated. Kenyataannya Indonesia bukan lagi pure net oil exportir, ibaratnya Indonesia punya kaki 2, eksportir dan importir. Sampai sekarang kita belum memikirkan akan merapat kemana nantinya," jelasnya.
Sebagai negara eksportir Indonesia mendapat windfall profit hingga Rp 41 triliun. Namun disisi lain, kenaikan subsidi BBM dan listrik terus mengintai. Hingga akhirnya APBN jebol, dan pemerintah menyerah dengan menaikkan harga BBM subsidi sebesar rata-rata 28,7% akhir minggu lalu.
(lih/qom)










































