Serat sintetis digunakan untuk bahan baku garmen, sedangkan bahan pokok pembuatan serat sintetis adalah minyak bumi.
"Senin harga bahan baku naik karena harga minyak sudah di atas US$ 130 per barel, sebelumnya harga bahan baku US$ 950 per ton, waktu itu harga minyak masih US$ 120 per barel. Saat ini kami masih menghitung berapa kenaikan harga jual. Mungkin di bawah 10% karena daya beli terhadap sandang sedang turun," ungkap Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) Kustarjono Prodjolalito kepada detikFinance, jakarta, Jumat (30/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kalau tidak dinaikan maka kapasitas produksi yang akan turun padahal kapasitas produksi yang sebesar 1,3 juta ton baru terpakai 70% atau sekitar 800 ribu ton. Hal ini akan berdampak kepada pengurangan karyawan. Selain itu akibat kenaikan harga minyak banyak yang mengurungkan niat investasi maupun penambahan kapasitas di bisnis ini.
Saat ini Indonesia masuk peringkat 10 dunia untuk produsen serat sintetis. Peringkat satu diduduki China dengan produksi 22 juta ton dan kedua India sebanyak 15 juta ton. Saat ini sebanyak 70 persen produksi lokal digunakan untuk kebutuhan dalam negeri dan sisanya diekspor.
(arn/ddn)











































