Hal tersebut diungkapkan Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan dalam keterangan pers di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (30/5/2008).
"Konsumsi BBM kita terus naik. Sebelumnya, setelah BBM naik, kita perkirakan konsumsi akan turun. Ternyata awalnya saja. Tapi sekarang jalanan masih macet. Artinya, nggak ada upaya penghematan masyarakat. Premium Rp 6.000 atau Rp 4.500 sama saja. nggak banyak bedanya," katanya.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal pun menyatakan hal yang sama. Ia mencontohkan, konsumsi Premium hanya turun 3.000 KL/hari dari biasanya 56.000 KL/hari.
"Walaupun minyak naik, saya lihat konsumsi turun sesaat. Premium hanya 3.000 KL/hari. Minggu depan paling balik lagi 56 ribu KL," katanya.
Tidak hanya dampak yang tidak seperti diharapkan, Pertamina khawatir kapasitas depot dan tangki timbun mereka tidak bisa menyesuaikan laju pertumbahan kendaraan bermotor.
Namun ia mengaku belum bisa memperkirakan apakah realisasi konsumsi BBM subsidi tahun ini bisa sesuai kuota.
"Kita tunggu dulu sampai dua minggu, baru bisa diperkirakan apakah bisa sesuai kuota APBN atau melebihi itu," katanya.
(lih/qom)











































