Hal itu dikemukakan Dubes RI LBBP untuk Kerajaan Belanda J.E Habibie pada pidato pembukaan dalam Business and Investment Forum Indonesia-Netherlands di Le Meridien Hotel Des Indes, Den Haag, Kamis (29/5/2008).
Forum hasil kerjasama KBRI Den Haag, BKPM dan Syabata Cemerlang itu dihadiri para pejabat penting kedua pemerintah antara lain Kepala BKPM Muhammad Luthfi dan tim, J.M Baak dari Kementerian Ekonomi Belanda, R. Pfeiffer dari Asosiasi Indonesia Belanda, dan para wakil dari 32 pelaku bisnis seperti Shell, DSM dan ABN Amro Bank.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tren sangat positif dalam hubungan dan kerjasama bilateral adalah harapan untuk tumbuh di masa depan untuk keuntungan, pembangunan, dan kesejahteraan rakyat kedua negara," ujar Habibie.
Dikatakan bahwa kedua negara mempunyai basis untuk optimistis sebagaimana faktor-faktor kondusif dan pendukung memang telah dibangun bersama demi tercapainya tujuan. Antara lain hubungan tradisional yang telah ada sejak lama, kedekatan emosional dan ikatan sejarah.
"Contohnya dari 16 juta penduduk Belanda itu terdapat kira-kira 2 juta orang yang mempunyai ikatan emosi langsung atau tak langsung dengan Indonesia," tandas Habibie.
Lebih lanjut Habibie menggarisbawahi bahwa pengakuan atas kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang disampaikan oleh Menlu Belanda saat itu (Ben Bot) pada kunjungan kerjanya ke Jakarta pada 16/8/2005 telah menyingkirkan beban masa lalu.
"Hal itu telah membawa hubungan kedua negara memasuki era baru kerjasama dan persahabatan murni," demikian Habibie.
Habibie di depan forum mengungkapkan bahwa meskipun ada yang menilai dari sisi de jure masih discutable, namun kerjasama kedua negara terus berjalan. Selama ini Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) menilai aspek de jure hubungan Indonesia-Belanda masih kontroversial.
(es/es)











































