Perusahaan baja yang menguasai 10% pasar baja dunia ini juga menyambut baik keinginan manajemen KS untuk bertemu langsung dengan ArcelorMittal.
"Kami dengan senang hati bertemu dengan manajemen KS secepat mungkin. Kami sudah mengirimkan pernyataan ingin bertemu, tinggal menunggu balasannya. Begitu ada respons, Mittal commited to give the best," kata Sudir Maheshwari, VP FInance n Acquisition Arcelor Mittal dalam keterangan melalui video conference di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (2/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan menganalisa dan mengkaji kebutuhan KS. Apa saja keahlian yang bisa diberikan, kita cari solusinya bersama. Sementara jangka panjang, ya membuat rencana jangka panjang," tuturnya.
Diakui Maheshwari, ArcelorMittal hingga saat ini masih berpegangan teguh terhadap rencana strategic sale. Sementara di dalam negeri kalangan DPR lebih menyukai pelepasan saham KS lewat penawaran umum perdana (IPO).
"Kami fokus pada strategic divestment. Tapi tetap saja pemerintah yang memutuskan. Kami percaya strategic divestment adalah yang terbaik Untuk jangka panjang. Apalagi saat ini industri baja dunia sedang perlu konsolidasi agar lebih baik," katanya.
"Dari pengalaman kami, mergernya Arcelor dan Mittal membuktikan konsolidasi sangat efektif. Dengan itu bisa terlihat kalau pertumbuhannya bisa lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi sebaiknya KS juga ikut berkonsolidasi," lanjut Maheshwari.
Mittal juga melihat Indonesia punya potensi untuk menjadi basis produksi di kawasan Asia Tenggara. Karena ArcelorMittal yang berkantor pusat di Luxemburg mempunyai beberapa hub untuk wilayah regionalnya.
"Kalau Indonesia kemungkinan jadi regional hub (pusat regional) bisa. Karena ArecelorMittal bisnisnya dibagi per segmen-segmen. Indonesia punya potensi untuk jadi basis misalkan untuk kawasan Asia Tenggara misalnya," katanya.
Indonesia juga dinilai memiliki karakteristik untuk menjadi hub di regional karena tingkat konsumsi dan pertumbuhan ekonominya. Sehingga bisa menjadi tempat yang ideal untuk skala produksi Mittal.
"Regional hub akan terjadi kalau investasi ditanam pada waktu dan tempat yang tepat," katanya.
Pihak ArcelorMittal juga tidak mempermasalahkan jika penjualan KS dilakukan setelah Pemilu tahun depan.
"Kami akan sangat senang untuk berkomunikasi mengenai rencana-rencana kami. Tapi semua itu hak pemerintah. Yang paling mungkin, kami akan tetap tertarik. Tapi sebenarnya makin cepat makin bagus, karena memberi kesempatan KS untuk lebih cepat tumbuh. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk konsolidasi baja dunia," katanya.
Begitu juga dengan masalah transfer teknologi dan riset, menurut Maheshwari pihaknya punya komitmen untuk itu.
"Kami punya komitmen yang akan dibicarakan dengan manajemen KS. Kami harus punya kesamaan visi dulu, dan kemudian kami bisa menerapkan fast track untuk pertumbuhan KS. Meski pun, KS memang akan tetap tumbuh. So, opsi terbaik adalah memang strategic sales," katanya.
Ditanya alasan begitu ngotot membeli KS dan kenapa tidak membuat pabrik sendri dengan dana yang melimpah, Maheshwari menjawab, "Akan butuh waktu untuk membangun pabrik sendiri. Sementara kalau KS saat ini sudah bagus, sehingga kami bisa mempercepat pertumbuhannya, meningkatkan kapasitasnya".
Jadi cuma mau tingkatkan kapasitas? "Oh, gak. Pertama kami akan membuat KS lebih efisien dan sehat dulu, baru kemudian menaikkan kapasitasnya," tukas Maheshwari.
Mengenai prediksi harga baja, Maheshwari mengaku tidak bisa bicara soal itu. Tapi gambaran umumnya, saat ini pertumbuhan produksi baja sangat sulit memenuhi permintaan. Karena keterbatasan sumber dayanya.
Lalu apakah Mittal masih mau menerapkan harga baja subsidi kalau nanti masuk ke KS? Maheshwari mengatakan ArcelorMittal tidak punya satu solusi yang sama untuk seluruh pasarnya. Karena masing-masing lokasi punya keunikan tersendiri. Bagaimana solusi di Indonesia nantinya tergantung kesepakatan ArcelorMittal, KS dan pemerintah Indonesia.
Kemungkinan adanya penolakan di akar rumput, Maheshwari mengatakan setiap penolakan kan ada sebabnya. "Kami akan mencari tahu dulu sebabnya apa, dan kami akan membicarakannya. Kami ajak kerja sama untuk mencari solusinya," katanya.
Ditanya komitmennya menjaga KS sebagai perusahaan negara, Maheshwari menjawab dengan pasti.Β "We extremely commited to keeps KS sebagai perusahaan berbendera Indonesia. Dan ini juga sudah kami lakukan di negara lain dimana kami tetap menjaga perusahaan tersebut sebagai milik negara," pungkasnya. (ir/ddn)











































