Harga Minyak RAPBN 2009 Diusulkan US$ 90-110

Harga Minyak RAPBN 2009 Diusulkan US$ 90-110

- detikFinance
Selasa, 03 Jun 2008 08:52 WIB
Harga Minyak RAPBN 2009 Diusulkan US$ 90-110
Jakarta - Asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) untuk RAPBN 2009 diusulkan dalam kisaran US$ 90-110 per barel.

Padahal ICP secara rata-rata untuk sepanjang tahun 2008 sudah cukup tinggi. ICP pada Januari 2008 tercatat sebesar US$ 92 per barel, Februari US$ 94 per barel, Maret US$ 103 per barel, April US$ 109 per barel, dan Mei mencapai US$ 124 per barel.

Hal tersebut dijelaskan Dirjen Migas Luluk Sumiarso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (2/6/2008) malam.
 
"Kalau melihat kelaziman sejak 2003, meski pada pertengahan tahun harga tinggi, pada akhir tahun seharusnya harga minyak turun. Hanya saja pada 2007 nggak mau turun," kata Luluk.
 
Sementara Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman menjelaskan, kisaran US$ 90-110 bisa saja berubah beberapa bulan kedepan.
 
Berdasarkan hasil survei suatu instansi internasional, harga minyak tahun 2009 diperkirakan bergerak di kisaran US$ 80-130 per barel. Indonesia memilih US$ 90 sebagai harga bawah karena melihat banyak negara penghasil minyak menggunakan asumsi tersebut.
 
"Jadi kalau negara ini melihat harga minyak akan turun, dia akan potong produksinya sehingga suplai akan ketat lagi," jelas Maizar.
 
Ia juga menegaskan, faktor-faktor yang berpengaruh pada harga minyak tahun depan akan berbeda dengan tahun ini. Jika saat ini aksi spekulan diikuti ketatnya supply-demand menjadi sangat dominan, maka tahun depan supply demand akan lebih longgar.
 
Mengendurnya tegangan antara supply dan demand disebabkan meningkatnya kapasitas produksi sebagai hasil eksplorasi yang dilakukan di beberapa negara.
 
"Sehingga permintaan minyak 1,2 juta bph bisa dipenuhi sendiri dari peningkatan produksi negara non OPEC dan produksi kondensat negara OPEC. OPEC sendiri akan menaikan kapasitas produksi sebesar 1 juta bph dari 3 juta bph menjadi 4 juta bph," jelasnya.
 
Sementara dari sisi demand, permintaan minyak diperkirakan akan menurun seiring melambatnya ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan turun 1% dari 4,9% pada tahun ini menjadi 3,9%. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads