Hal itu dilakukan setelah semakin tingginya harga gas yang didapat PKT yang mencapai US$ 9 per mmbtu. Pupuk yang diproduksi PKT nantinya non subsidi diperuntukan untuk industri dan perkebunan.
Sementara Pusri bertugas mengisi pupuk bersubsidi untuk pertanian di wilayah distribusi PKT karena Pusri masih mendapat harga gas dari Pertamina lebih murah yakni US$ 3-3,8 per mmbtu. Hal ini dilakukan agar subsidi pupuk tidak semakin membengkak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan melakukan penghematan dan Pertamina kita himbau tidak menaikkan harga gas Pusri. Harga jual pupuk dari PKT tidak bersubidi sedangkan Pusri harga pupuk ureanya masih bersubsidi," jelas Benny.
Menurut Benny, subsidi silang ini dilakukan agar tercipta efisiensi dan mencari biaya produksi yang termurah sehingga petani tetap mendapat pupuk dengan harga subsidi sdan tidak ada kelangkaan pupuk.
"Pupuk subsidi jumlahnya tetap urea sebanyak 4,3 juta ton, jadi yang semulus dipasok PKT diganti oleh Pusri. Dengan begini biaya produksi berkurang. Hal ini akan dilakukan secepatnya pada akhir bulan ini," tuturnya.
(arn/ir)











































