Perdebatan Sengit, SBY Batal Datang

KTT Keamanan Pangan, Roma

Perdebatan Sengit, SBY Batal Datang

- detikFinance
Kamis, 05 Jun 2008 01:02 WIB
Perdebatan Sengit, SBY Batal Datang
Roma - Konsep deklarasi yang akan memuat komitmen langkah serta aksi bersama anggota FAO sengit diperdebatkan. Presiden SBY batal datang.

Salah satu keluaran yang akan dihasilkan dari KTT Keamanan Pangan dan Tanangan Perubahan Iklim dan Bioenergi, Roma (3-5/6/2008), adalah sebuah deklarasi yang akan memuat komitmen langkah serta aksi bersama anggota FAO dalam mengatasi situasi harga pangan yang sedang terjadi.

Namun hingga saat ini konsep deklarasi KTT yang diprakarsai bersama oleh FAO, IFAD dan WFP itu masih sengit dibahas dan didiskusikan oleh para anggota perwakilan negara-negara anggota FAO, Sekretaris I Pensosbud KBRI Roma Pramudya Sulaksono kepada detikFinance menuturkan hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa isu yang menonjol yang jadi perdebatan adalah soal pengaturan pemakaian biofuel yang dikaitkan dengan pangan, soal aturan perdagangan internasional khususnya produk bahan pangan, serta persoalan keamanan lingkungan dalam hubungannya dengan pemakaian sumber daya alam bagi keperluan pertanian.

Selain itu, perdebatan juga terjadi terkait adanya langkah langkah sejumlah negara yang berusaha untuk mempolitisir pertemuan yang diselenggarakan oleh FAO.

Pramudya menambahkan, bahwa Presiden SBY rencananya akan langsung memimpin delegasi Indonesia, tetapi mengingat banyaknya persoalan dalam negeri yang memerlukan keberadaan Presiden, maka pimpinan delegasi Indonesia dipercayakan kepada Menteri Pertanian, Anton Apriyantono.

Mentan Anton disertai oleh beberapa pejabat Departemen Pertanian, Bappenas, dan juga dari Departemen Luar Negeri dan KBRI Roma.

KTT FAO kali ini sesuai dengan temanya membahas soal pangan dikaitkan dengan adanya perubahan iklim global dan juga semakin gencarnya pemakaian bioenergi khususnya biofuel (biodiesel dan bioethanol).

Menurut panitia konferensi, KTT diikuti sekitar 2.467 peserta. Di antara mereka terdapat 650 wartawan, 120 LSM dan 200 utusan dari organisasi di bawah naungan PBB. (es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads