Sedianya Malaysia diprediksi akan menjadi net oil importir di tahun 2011. Namun kenaikan harga BBM yang baru saja diberlakukan Malaysia diprediksi akan mengurangi kebutuhan energi di negeri jiran tersebut.
Demikian disampaikan Chief Executive Petronas, Mohd Hassan Merican dalam pernyataannya yang dilansir Bernama dan dikutip dari Reuters, Jumat (6/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, jika tingkat pertumbuhan permintaannya dikurangi dari 6% per tahun menjadi 4%, maka status net oil importir Malaysia baru akan tertunda 3-4 tahun dari target atau menjadi 2014-2015.
Malaysia kemarin menaikkan harga BBM, dan memberlakukan harga BBM sesuai mekanisme pasar. Pemerintah Malaysia hanya akan mensubsidi 30 sen untuk setiap liter BBM. Langkah itu ditempuh untuk mencegah membengkaknya subsidi BBM akibat terus menanjaknya harga minyak mentah dunia.
Padahal Malaysia kini masih tercatat sebagai net oil exporter dengan pendapatan 250 juta ringgit dari setiap 1 dolar AS kenaikan harga minyak mentah.
Hassan mengatakan, Malaysia akan menjadi net oil importer ketika permintaan minyak domestik melebihi kapasitas produksi domestik.
"Kami akan tetap memroduksi dalam beberapa tahun ke depan, namun produksi kami kemungkinan tidak akan cukup untuk mencukupi kebutuhan domestik sehingga kami akan menjadi net oil importer," pungkasnya.
Kebalikan dengan Malaysia, Indonesia sebelumnya justru menargetkan bisa menjadi net oil exporter dalam 5 tahun kedepan. Sehingga menurut Wapres Jusuf Kalla, Indonesia bisa masuk kembali ke OPEC tahun 2013, saat produksi minyak meningkat dan RI menjadi net oil exporter lagi.
(qom/ir)











































