Demikian dijelaskan Ekonom Asian Development Bank (ADB) Guntur Sugiyarto dalam seminar mengenai kenaikan harga komoditas di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/6/2008).
"Masalah data untuk penerima raskin, itu memang salah satu isu, tapi yang saya soroti itu implementasinya. Terlepas identifikasinya tepat atau tidak, kenyataannya banyak orang yang tidak miskin tapi menerima raskin," katanya
Ia menjelaskan, dalam program raskin masyarakat miskin mendapat jatah untuk membeli beras sampai 20 kilo dengan harga yang lebih murah. Tapi seringnya, masyarakat yang miskin tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk membeli raskin sebanyak 20 kilogram sekaligus.
"Akhirnya yang terbeli oleh mereka paling hanya 5 kilo, dari jatah yang bisa sampai 20 kilo," kata Guntur.
Sisa raskin yang tidak terbeli oleh masyarakat miskin inilah yang kemudian bisa dibeli orang masyarakat yang tidak miskin.
Sementara untuk program BLT, bantuan sebesar Rp 100.000 per bulan langsung diberikan pada penerima BLT yang terdata.
"Jadi BLT benar-benar langsung sampai ke masyarakat miskin sebesar Rp 100.000. Terserah nantinya mau diapakan, itu soal lain. Mengenai dampaknya kita belum mengkaji sejauh itu," ujarnya.
Untuk memperbaiki sistem raskin, ia mengusulkan pembentukan outlet-outlet (toko) permanen yang khusus menjual kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah.
"Sehingga masyarakat miskin tidak perlu mengumpulkan uang untuk membeli beras 20 kilo sehari, tapi bisa membelinya sehari-hari. Mekanisme ini sudah dipakai di India," jelasnya.
(lih/qom)











































