20 Ton Beras RI Siap Diekspor

20 Ton Beras RI Siap Diekspor

- detikFinance
Selasa, 10 Jun 2008 15:18 WIB
20 Ton Beras RI Siap Diekspor
Jakarta - Setelah pemerintah mengeluarkan izin ekspor beras, sudah ada pihak yang meminta izin untuk mengekspor beras. Namun jumlahnya hanya kecil, yakni hanya 1 kontainer atau sekitar 20 ton.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi disela-sela seminar mengenai kenaikan harga komoditas di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/6/2008).

"Sudah ada yang mengajukan ekspor, kecil volumenya 1 kontainer atau 20 ton. Tapi tidak tahu detailnya karena angka ekspor sangat kecil," urai Bayu.

Menurutnya, angka ekspor tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan beras yang dikonsumsi masyarakat sebesar 33 juta ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bayu menambahkan, hal yang perlu diwaspadai adalah jika ada gerakan ekspor yang tiba-tiba hingga mencapai 1 juta ton.

"Itu harus diwaspadai, Filipina yang membeli paling besar pun hanya 150 ribu ton. Kalau ekspor atau impornya melonjak sampai 1 juta ton, itu pasti ada yang salah. 10 ribu ton itu 2.000 truk karena 1 truk 5 ton. Masak sih ada 2.000 truk lewat di Tanjung Priok kita nggak bisa lihat," cetusnya.

Bayu menjelaskan, ekspor beras biasanya justru ditujukan untuk mencari duit. Petani menjual beras mahalnya dengan ekspor, untuk selanjutnya membeli beras lain dengan harga yang lebih murah.

"Ekspor itu untuk mencari duit, beras kita harganya Rp 30-40 ribu sekarang masak nggak boleh diekspor? Pandan Wangi, Cianjur kelas bagus, Rojolele, beras Klaten, beras Kalimantan yang bagus," katanya.

Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari ekspor beras tertentu. Menurut Bayu, beras-beras dari Indonesia yang berpotensi untuk diekspor adalah beras berkualitas tinggi, beras yang memiliki rasa dan aroma khas, beras organik dan beras yang memiliki citarasa tinggi.

Sementara Indonesia juga membutuhkan impor jenis beras tertentu seperti beras Jepang yang mengandung kadar gluten.

"Bukan ketan tapi ada glutennya yang dipakai di restoran Jepang. Dalam batas tertentu kita bisa impor. Kalau misalnya kita butuh 33 atau 34 juta, satu atau 2 persen dari angka itu kita pakai untuk ekspor atau impor," imbuhnya. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads