"Caltex tadi minta apakah bisa dipercepat, mereka kan swasta yang ingin dengan harga minyak seperti saat ini tidak ada satupun dari mereka yang ingin menghambat produksi dengan harga minyak seperti ini mereka kan ingin produksinya tinggi supaya mereka dapat revenue tinggi, tetapi ada aturan birokrasi," kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.
Hal itu diungkapkan Purnomo usai pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan para pelaku industri minyak dan gas nasional di Gedung Setneg, Jl Majapahit, Jakarta, Rabu (11/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah juga kata Purnomo, akan berusaha untuk memperpendek birokrasi. "Memang ujung-ujungnya terkait koordinasi antar pejabat pemerintah sendiri, kami sendiri disatu sisi ada permintaan agar produksi ditingkatkan dengan lebih cepat tetapi satu sisi lagi berkaitan dengan birokrasi tetapi dengan seperti ini kan kami senangnya ada keterbukaan bahwa mereka menyampaikan itu pada Bapak Presiden, ini lah kendala-kendalanya, bahkan ENI perusahaan minyak dari Italia menyampaikan ke bapak Presiden kita bisa meningkatkan lifting minyak dan didukung diselesaikan masalah birokrasi," urai Purnomo.
Sementara Kepala BP Migas R Priyono mengatakan saat ini sudah ada 12 KKKS yang siap mengembangkan temuan baru migasnya.
"Sudah dilaporkan ke BP Migas, ada 12 penemuan yang akan segera di kembangkan yaitu di Natuna, Selat Makassar, Sumsel, Ketapang, Genting Oil, Chevron, Conoco, Medco dan lain-lain ini yang sudah melaporkan ada penemuan dan segera dikembangkan," katanya.
Mengenai rencana penjualan cadangan minyak yang sudah penuh (tank top) milik Pertamina menurut Purnomo, pihaknya sudah memberi waktu ke Pertamina agar segera mencari tanker-tanker untuk transportasinya.
"Tapi memang di lapangan, cari tanker itu gak mudah karena dengan kebutuhan begini ini, dengan kebutuhan minyak yang meningkat, ketersediaan tanker kan terbatas, cari tanker juga susah, tapi kita sudah minta Pertamina. Saya sudah bicara dengan Pak Ari (Dirut Pertamina), tolong segera dicarikan tanker, cepat! Itu minyak yang di-storage di lift," jelas Purnomo.
Menurut Purnomo yang menyulitkan masalah tank top ini kalau tankernya sudah penuh semua dan Pertamina belum dapat tanker. "Kita harus matikan sumur, gitu kan, kalau sumur air you terus berproduksi lalu tankinya penuh kan diberhentikan dulu sumurnya," katanya.
"Mereka sudah cari tanker, BP Migas sudah lapor ke saya, mereka bilang, pak kalau Pertamina tidak bisa kita mau cari tanker sendiri, ya carilah tanker sendiri," lanjut Purnomo.
(ir/ddn)











































