"Kita ada masalah yang sama soal kenaikan harga minyak BBM. Disitu terlalu banyak distorsi dari segi ekonomi. Sama seperti Indonesia langkah ini memang tidak populer. Kenapa kita ambil langkah seperti ini walaupun ada kemampuan untuk terus menyubsidi dari Petronas. Namun suatu saat minyak kita juga akan habis. Berapa kita belum tahu," kata Menteri Penerangan Malaysia Dato' Ahmad Shabery.
Hal itu diungkapkan Ahmad disela-sela acara penandatanganan MoU bidang informasi dan telekomunikasi di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (12/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti seorang ayah kalau mau populer apapun permintaan anaknya akan dikasih, begitu juga antara pemerintah dengan rakyatnya, kalau seperti itu terus populer lah kita sekarang. Tapi bagaimana 5-10 tahun lagi selepas itu," katanya.
Ahmad mengatakan jika ke depan negara bangkrut disaat pemerintahan saat ini tidak menjabat lagi yang ada hanya menyisakan utang terus, yang tentu akan menjadi beban rakyatnya sendiri.
"Padahal rakyatlah yang perlu kita lindungi. Ini cuma masalah pilihan mau jadi populer atau bertanggung jawab, bagaimana mendidik rakyat untuk bertindak cermat," katanya.
Sementara Menkominfo Muhammad Nuh mengatakan, Malaysia dengan produksi 700 ribu barel per hari dan konsumsi 500-600 ribu barel per hari yang masih ada surplus tetap menaikkan harga BBM.
"Sementara kita produksi cuma 927 ribu barel per hari dan konsumsi 1,2 juta barel per hari, jadi kita wajar kan menaikkan," kata Nuh.
Malaysia telah menaikkan harga BBM dan hingga kini pihak oposisi terus menolaknya.
(ir/qom)










































