Β
Menurut Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) J Purwono, elastisitas energi Indonesia terbilang tinggi, sekitar 1,8. Bandingkan dengan Jepang yang elastisitasnya dibawah 1.
Β
Elastisitas energi merupakan rasio perbandingan konsumsi energi suatu negara dengan pertumbuhan ekonominya. Jadi semakin besar elastisitas energi suatu negara, artinya makin banyak energi yang dikonsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Alias lebih boros.
Β
Dan sebaliknya, negara yang elastisitas energinya rendah seperti Jepang misalkan, berarti semakin irit mengonsumsi energi untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Alias lebih efisien.
Β
"Jepang itu merupakan salah satu negara yang paling efisien penggunaan energinya. Elastisitasnya bisa dibawah satu. Artinya bisa efisien. Kalau kita masih sangat boros," kata Purwono usai seminar mengenai penghematan energi di Kantor Ditjen LPE, Jakarta, Kamis (12/6/2008).
Β
Purwono juga menambahkan, pemerintah menargetkan energi elastisitas Indonesia bisa ditekan hingga dibawah 1 pada 2025, atau sekitar 17 tahun lagi.
Β
"Diharapkan energi elastisitas kita turun dari 1,8 jadi 1. Tapi itu jangka panjang, pada 2025," katanya.
Β
Selain elastisitas energi, ada juga indikator berupa intensitas energi. Intensitas energi merupakan jumlah energi primer yang dikonsumsi suatu negara untuk menghasilkan setiap dolar PDB (produk domestik bruto).
Β
Untuk Indonesia, intensitas energinya mencapai 470-480 tonnes oil equivalent (toe). Artinya, untuk menghasilkan satu dolar PDB, Indonesia membutuhkan 470-480 toe energi. Energi yang dimaksud bisa minyak, gas, batubara, dan energi primer lainnya.
Β
Sementara Jepang hanya 92,3 toe, OECD butuh 210 toe, Thailand butuh 390 toe, Malaysia butuh 460 toe, Amerika Utara butuh 290 toe, dan Jerman hanya menghabiskan 140 toe.
Β
Untuk itu, Indonesia sedang giat-giatnya berguru pada negara lain seperti Jepang untuk mengetahui bagaimana agar elastisitas energi bisa dikurangi.
Β
Kerjasama Indonesia dan Jepang melalui JICA ini dimulai sejak 2007 dan akan berakhir pada 2009. Fokus kerjasama yang dilakukan antara lain penerapan manajemen energi, sistem labelisasi dan program demand side management.
Β
Dalam studinya, JICA melakukan market survei terhadap peralatan pemanfaat energi listrik untuk rumah tangga, industri dan bangunan gedung, produsen peralatan listrik, importir peralatan listrik, dan lain-lain.
(lih/qom)











































