Exxon Lepas Bisnis SPBU

Exxon Lepas Bisnis SPBU

- detikFinance
Jumat, 13 Jun 2008 11:03 WIB
Exxon Lepas Bisnis SPBU
Washington - Raksasa migas, Exxon Mobil Corporation memutuskan untuk keluar dari bisnis SPBU di AS, menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang terus menggerus marjin labanya.

"Kami sedang berada dalam pasar yang sangat, sangat menantang. Marjin terus berkurang. Kami merasa cara yang paling tepat bagi kita untuk tetap tumbuh dari berkompetisi adalah melalui jalur distribusi kami," ujar juru bicara Exxon, Prem Nair seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/6/2008).

SPBU dengan brand Exxon Mobil diseluruh AS kini mencapai 12.000. Sebanyak 2.220 diantaranya masih dimiliki oleh Exxon sendiri. Sementara sekitar 75% diantaranya sudah dimiliki oleh pihak lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan publik terbesar di dunia itu akan menjual SPBU yang masih dimilikinya dalam beberapa tahun kedepan. Jumlah itu termasuk 820 SPBU yang juga dioperasikan oleh Exxon sendiri.

Namun menurut Prem, Exxon akan tetap mempertahankan brand di SPBU-SPBU itu. Konsumen di negara paman sam itu akan tetap membeli BBM di SPBU yang memasang nama Exxon dan Mobil, meski bukan lagi kepunyaan perusahaan migas tersebut.

Perusahaan-perusahaan pengelola SPBU di negara tersebut kini sedang berjuang ditengah himpitan kenaikan harga minyak yang terus menggerus labanya. Berdasarkan data pemerintah AS, harga bensin telah naik hingga 31% dibandingkan tahun lalu, sementara harga minyak telah naik hingga 2 kali lipat.

Dalam kondisi tersebut, laba dari unit ritel ini tentu saja nyaris tak ada. "Laba dari unit ritelnya hampir mendekati sebuah putaran kesalahan," ujar Mark Gilman, analis dari Benchmark Co.

Pilihan Exxon untuk meninggalkan bisnis ritel BBM itu berarti mengikuti langkah kompetitornya yakni Shell, BP Plc.

"Bisnis ritel BBM sangat bergejolak dan secara tipikal merupakan bisnis dengan tingkat pengembalian rendah sehingga keluarlah keputusan ini," imbuh Gilman.

Exxon pada tahun 2007 berhasil meraup US$ 40 miliar dari bisnis produksi migasnya di seluruh dunia.

"Saya kira keputusan ini keluar karena bisnis ini lebih menyakitkan kepala dibandingkan harganya," ujar analis Fedel Gheit dari Oppenheimer & Co.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads