Natuna Resmi 'Jatuh' ke Pertamina

Natuna Resmi 'Jatuh' ke Pertamina

- detikFinance
Senin, 16 Jun 2008 15:45 WIB
Natuna Resmi Jatuh ke Pertamina
Jakarta - Pemerintah telah resmi menunjuk Pertamina sebagai pengembang lapangan Natuna D Alpha. Penunjukkan ini ditegaskan Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 tanggal 2 Juni 2008 perihal Status Gas Natuna D-Alpha.
 
Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Senin (16/6/2008).
 
"Kita sudah tunjuk Pertamina. Proses Natuna itu pertama kita sudah negosiasi, kemudian kita lakukan sidang kabinet. Di situ kan sudah jelas arahan presiden seperti apa," katanya.
 
Purnomo menambahkan saat ini Pertamina sedang berbicara dengan Ditjen Migas untuk menyusun term and conditions kontrak PSC. Hanya apa saja yang dibicarakan belum bisa dikatakan ke publik.
 
"Mereka sudah bicara dengan BP Migas, dan ada beberapa progress yang sudah merek lakukan. Mungkin karena masih separuh-paruh belum bisa diumumkan ke masyarakat," katanya.
 
Hal tersebut dibenarkan paparan Pertamina di rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR. Dalam paparan tertulisnya, Pertamina menyatakan pihaknya sudah mulai membahas kontrak, menyusun feasibility study dan Terms of Conditions (TOR) untuk memilih mitra kerja.

Sementara Wadirut Pertamina Iin Arifin Takhyan menjelaskan Pertamina akan membentuk sebuah tim yang khusus untuk mengevaluasi proyek Natuna sekaligus memilih partner untuk mengembangkan lapangan itu.
 
"Kita bentuk tim evaluasi. Juga untuk mencari partner," jelasnya.
 
Untuk memilih partner ini, Pertamina akan menggelar beauty contest. Menurut Iin, hampir semua perusahaan kelas kakap sudah mengajukan keinginan untuk bermitra dengan Pertamina. Perusahaan yang sudah maju antara lain Petronas, Shell, dan Petrovietnam, Exxon, StatOil,
 
"Kita belum tahu mana yang akan dipilih. Bisa saja tahun ini. Tapi yang kita inginkan adanya joint operation seperti halnya di Cepu," jelasnya.
 
Mencari mitra untuk mengembangkan Natuna menjadi penting karena pengembangannya yang mahal. Menurut Iin, untuk pengembangan 1 miliar kubik per hari butuh investasi US$ 25 miliar dengan pipa dijual ke negara tetangga.
 
"Jadi prosesnya, kita akan pelajari dulu, kemudian kita bikin tim, lalu cari partner, dan setelah ditetapkan PSC-nya baru kita approve PoD-nya. Langkahnya masih panjang," katanya.
 
(lih/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads