Lifting Gas Masuk RAPBN 2009

Lifting Gas Masuk RAPBN 2009

- detikFinance
Selasa, 17 Jun 2008 17:26 WIB
Lifting Gas Masuk RAPBN 2009
Jakarta - Pemerintah akan memasukkan lifting gas dalam asumsi RAPBN 2009. Harga gas yang diusulkan sebagai acuan perhitungannya bervariasi antara US$ 4-9,8/mmbtu.

Dalam paparannya, Dirjen Migas Luluk Sumiarso menjelaskan harga gas untuk ekspor yang digunakan adalah US$ 9,8/mmbtu dan harga untuk domestik sebesar US$ 4/mmbtu. Sehingga dengan perhitungan tertentu harga gabungannya sekitar US$ 7,2/mmbtu.

"Ini upaya pertama kami, karena sebelumnya belum pernah. Memang range-nya terlalu lebar, karena variasinya banyak sekali. Tergantung berapa cadangan gasnya dan return tertentu. Memang tidak semudah menghitung minyak," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyatakannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (17/6/2008).

Perhitungan harga ini berdasarkan 72 kontrak-kontrak gas yang berjalan sampai saat ini. Terdiri dari 54 kontrak dengan harga flat (tetap), 10 kontrak dengan eskalasi harga, dan 8 sisanya menggunakan formula harga.

"Memang ada beberapa kontrak yang harganya masih rendah. Makanya kami berencana merenegosiasi kontrak-kontrak yang ada," jelasnya.

Luluk juga menjelaskan, asumsi lifting gas yang diusulkan masuk ke RAPBN 2009 7,526 juta mmbtu/hari atau setara 1,384 juta barel ekuivalen/hari.

Dengan asumsi lifting minyak untuk RAPBN 2009 sebesar 927-950 ribu barel/hari, maka lifting gabungan minyak dan gas (migas) mencapai 2,311-2,334 juta barel/hari.

Jumlah ini naik dari perkiraan lifting migas 2008 sebesar 2,154 juta barel ekuivalen per hari. Namun lifting gas sebesar 1,177 juta barel ekuivalen/hari tidak dimasukkan sebagai asumsi penerimaan APBN 2008.

Menurut Luluk, pemerintah memang berencana memasukkan lifting gas kedalam asumsi RAPBN 2009 karena mempertimbangkan produksi gas nasional yang cukup besar. Tidak hanya gas, pemerintah juga berencana memasukkan penerimaan dari batubara sebagai asumsi RAPBN 2009.

"Kita coba ke depan nggak cuma harga minyak, karena produksi gas cukup besar. Bagaimana kalau asumsi nggak hanya minyak, tapi juga gas dan batubara," ujar Luluk.

(lih/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads