Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi usai Rapat Pokja Kebijakan Tim Nasional PEPI (Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Impor) di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Selasa (17/6/2008).
"Jadi investasi bisa stagnan dan penyerapan tenaga kerja bisa tidak jalan," jelasnya.
Sofjan mengatakan untuk sektor yang masih booming seperti pertambangan atau kelapa sawit akan berjalan terus investasinya, tapi sektor yang akan melambat adalah sektor manufaktur.
"Kalau untuk pertumbuhan ekonomi kita tumbuh 6 persen saja sudah bagus, saya pikir bisa di bawah 6 persen inilah masalah-masalah yang kita hadapi," katanya.
Untuk itu, para pengusaha akan mencari jalan keluar untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
"Kita mencoba cari jalan keluar daripada labor intensive itu dari perpindahan daripada pengusaha-pengusaha China karena mereka dipersulit oleh UU China itu pindah ke kita, mereka gampang ke kita, kita harus tarik cepat," tuturnya.
Hal ini dikatakan Sofjan sudah mulai terjadi seperti beberapa investasi di sektor tekstil dan garmen yang masuk di Jawa Barat. "Jumlah investasinya sekitar US$ 5-10 juta tapi cukup banyak, beberapa ribu orang sudah bekerja," urainya.
Dia juga menambahkan perusahaan sepatu Nike juga berencana menambah produksinya dengan membangun pabrik di Sukabumi.
"Itu sudah direalissikan, lumayan ada 7.000 orang yang bekerja, cukup banyak US$ 50 juta, tapi itu tidak dibuat oleh Nike tapi order dari Korea dan Taiwan, kapasitas 1-2 juta pasang setahun, tahun ini sudah mulai beroperasi," imbuhnya.
Sementara itu di tempat yang sama, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah tetap optimis pertumbuhan ekspor non migas akan mencapai 13 persen meskipun realisasi investasi akan menurun.
"Penurunan investasi inikan tidak hanya terjadi di Indonesia, karena guncangan perekonomian global dan kenaikan harga BBM dialami hampir di seluruh dunia," tuturnya.
(dnl/ddn)











































