US$ 5 Miliar Hilang Akibat Mogok

US$ 5 Miliar Hilang Akibat Mogok

- detikFinance
Rabu, 18 Jun 2008 12:37 WIB
US$ 5 Miliar Hilang Akibat Mogok
Busan - Korea Selatan adalah salah satu negara yang sangat tergantung pada aktivitas ekspor-impor. Dan pemogokan yang dilakukan oleh para sopir kontainer sebagai aksi protes menentang lonjakan harga BBM telah mengganggu aktivitas perdagangan internasional di Korea Selatan.

Harga yang harus dibayar adalah transaksi perdagangan internasional sekitar US$ 5 miliar menguap akibat pemogokan yang dilakukan oleh 13.000 sopir kontainer.

Kementerian Perekonomian Korsel menyatakan, pemogokan itu berdampak pada ekspor senilai US$ 2,31 miliar dan impor senilai US$ 2,43 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi mogok itu juga diikuti oleh lebih dari 23.000 pengemudi konstruksi, yang mayoritas mengemudi buldozer dan pencampur semen. Aksi pemogokan yang memasuki hari kelima itu mengakibatkan terganggunya aktivitas konstruksi di negeri ginseng tersebut.

Para sopir kontainer dan konstruksi tersebut menuntut penurunan biaya BBM atau kenaikan upah dalam rangka menghadapi kenaikan harga solar.

Sekitar 20% aktivitas keluar masuk pelabuhan dan terminal kargo masih berlanjut dengan bantuan militer Korsel.

Lima menteri Korsel dalam konferensi persnya mengumumkan paket 100 miliar won atau setara dengan US$ 97 miliar untuk memodernisasi sektor transportasi dan memperbaiki kesejahteraan para sopir. Salah satu bentuknya adalah pengalihan kontainer berbahan bakar gas alam dan beberapa dalam bentuk diskon

Para menteri juga meminta para sopir segera mengakhiri aktivitasnya dan bekerja kembali. Mereka juga meminta Korean Confederation of Trade membatalkan rencana pemogokan serupa yang akan dilakukan bulan depan untuk memrotes kebijakan pemerintah.

Para pejabat di pelabuhan terbesar, Busan khawatir pemogokan itu akan merusak status kawasan tersebut sebagai pelabuhan utama.

"Kami khawatir perusahaan pengapalan akan memindahkan operasi mereka ke pelabuhan asing," ujar manajer pemasaran pelabuhan, Kang Bu Won seperti dikutip dari AFP, Rabu (18/6/2008).

Perusahaan-perusahaan lokal mulai menghadapi masalah untuk mendapatkan bahan baku dan mengekspor barang jadi. "Pengapalan sekarang menjadi tertunda," ujar juru bicara POSCO.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads