Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu malam (18/6/2008).
"Gas juga bisa menghemat subsidi, jadi ada urgensinya untuk mengoptimalkan. Kalau itu dimunculkan sebagai asumsi, itu bisa dioptimalkan dan bisa ada langkah-langkah optimalisasi," tuturnya.
Anggito mengatakan selama ini pemerintah sebenarnya sudah memperhitungkan produksi gas sebagai referensi untuk penerimaan negara tapi tidak dimasukkan ke dalam asumsi.
"Jadi nanti bedanya keliatan di asumsi, lalu dari sisi transparansi itu dan dari sisi energi policy-nya juga cukup jelas. Dalam energi policy ini pemerintah tidak hanya fokus kepada minyak saja tapi gas dan barubara juga," ujar Anggito.
Untuk gas Anggito mengakui potensinya ke penerimaan cukup besar dengan minay investasi di sektor ini yang besar. "Kalau batubara penerimaanya tidak banyak, batubara lebih dipergunakan untuk pembangkit listrik, ada unsur progresnya juga," jelasnya.
Perhitungan gas dan batubara bisa mulai dimasukkan untuk APBN 2009. "Itu untuk transparansi dan penunjuk policy kita dan juga yang penting langkah-langkah optimalisasinya bisa dilakukan, artinya semakin kita terus terang serta terbuka, publik semakin tahu, dan mungkin juga menarik minat investasi," urainya. (dnl/qom)











































