Harga minyak dunia sempat menyentuh level tertinggi US$ 139 barel per hari pada 16 Juni 2008, sedangkan pada perdagangan 19 Juni 2008 waktu AS harga minyak berada di level US$ 131,93 per barel.
"Yang bisa membawa harga minyak turun adalah AS, jika konsumsi turun 5-8 juta barel per hari akan memberikan pengaruh signifikan," kata Dirut Pertamina Ari Soemarno dalam acara Editors Club, di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis malam (19/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan konsumsi di AS tidak akan tercapai dengan harga saat ini, kecuali harga minyak dunia sudah sampai US$ 150-180 per barel, baru kemungkinan AS ada perubahan pola konsumsi," ujar Ari.
Konsumsi BBM yang tinggi di AS salah satunya dipicu oleh kendaraan yang dimiliki warganya yang bermesin besar sehingga boros bensin. "Lihat saja mobil-mobilnya semua SUV ini yang bikin pemakaian bensin boros, selama lifestyle belum berubah AS masih akan besar mengkonsumsi BBM," ujarnya.
Pertamina sendiri mematok target harga minyak tahun ini maksimal US$ 150 per barel. "Paling tinggi target yang kita pasang tahun ini US$ 150 per barel, meskipun harga minyak bisa menyentuh US$ 180 per barel," kata Ari.
Jika dulu, kata Ari, pergerakan harga minyak dunia dipengaruhi supply, demand dan politik. Tapi kini bertambah satu faktor yakni spekulasi. Harga minyak yang terjadi di NYMEX atau London bisa sampai 5 kali transaksi baru terbentuk harganya.
"Jadi saat ini 20% perdagangan fisik dan 80 persen spekulasi oleh trader-trader besar," ujar Ari.
Ari juga memprediksi jika harga minyak turun tidak akan sampai di bawah US$ 90 per barel. "Karena di anggaran Arab Saudi harga minyak dipatok US$ 90 per barel, mereka kan pengendali harga minyak," ungkapnya. (ir/qom)











































