Negara-negara Timur Tengah yang juga anggota OPEC dan Gulf Cooperation Council (GCC) yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Omar dan Bahrain diperkirakan meraup pendapatan hingga US$ 350 miliar dari minyak pada tahun lalu.
Dan jika harga terus mendekati rekor di US$ 140 per barel, maka pendapatan minyak negara-negara GCC diprediksi mencapai lebih dari setengah triliun dolar AS atau sekitar Rp 4.600 triliun. Negara-negara tersebut menguasai produksi lebih dari 16 juta barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak seperti booming minyak di era 1970-an, belanja publik sekarang difokuskan pada proyek-proyek infrastruktur besar, perminyakan, petrokimia, pelabuhan, jalan kereta api, dll," ujarnya seperti dikutip dari AFP, Jumat (20/6/2008).
Saudi Jadwa Investment dalam laporan ekonomi bulan Juni menaikkan proyeksi pendapatan migas Arab Saudi pada tahun 2008 sebesar US$ 260 miliar dengan patokan harga US$ 90 per barel.
"Kami memperkirakan pendapatan Arab Saudi mencapai US$ 1 miliar dari pendapatan minyak per hari jika harga minyak di atas US$ 115 pare barel," demikian laporan tersebut.
Proyeksi tersebut dibuat tanpa memperhitungkan tambahan produksi 300.000 barel barel per hari mulai Juli dan sebelum harga minyak mendekati US$ 140 per barel.
Arab Saudi diperkirakan meraup US$ 300 miliar dari minyak pada tahun 2005 dan 2006. Sementara Uni Emirat Arab yang memroduksi 2,62 juta barel per hari meraup US$ 63 miliar pada tahun 2007, Kuwait dengan produksi 2,58 juta bph meraup US$ 50 miliar.
Dengan limpahan pendapatan tersebut, berbagai proyek infrastruktur pun tumbuh subur. Sementara para pegawai di enam negara GCC tersebut juga menikmatinya dengan kenaikan gaji. Bahkan beberapa ekspatriat yang bekerja di negara-negara tersebut juga menikmati kenaikan pembayaran menyesuaikan dengan inflasi yang juga meningkat.
Inflasi di Arab Saudi tercatat 10,6% pada April untuk year on year, Kuwait 10,14% pada Februari, Uni Emirat Arab 11,1%, dan Qatar sekitar 13%.
Sementara negara-negara lain, terutama Asia, kini harus pusing tujuh keliling untuk mengatasi dampak lonjakan harga minyak. Pemerintah negara-negara Asia pun terpaksa mengambil jalan tidak populis dengan menaikkan harga BBM, seperti Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Bangladesh. Rakyat pun semakin menderita karena dampak kenaikan harga BBM itu mulai dari suku bunga yang ikut naik hingga kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. (qom/ir)











































