Jika Pertamina bersikukuh sisa minyak yang belum terangkut hanya 2,1 juta barel, BP Migas tetap berpendapat jumlahnya mencapai 13,5 juta barel.
Kepala BP Migas R Priyono menegaskan, BP Migas dan Pertamina sudah melakukan evaluasi, dan mencatat ada sekitar 13,5 juta barel minyal yang masih tertimbun di penampungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan keterangan BP Migas, jumlah 2,1 juta barel merupakan sisa minyak yang belum terlifting untuk bagian Pertamina saja.
Padahal, Pertamina juga ditunjuk untuk mengangkut minyak bagian pemerintah yang diproduksi kontraktor-kontraktor lain. Sehingga total minyak yang belum terangkat mencapai 13,5 juta barel.
"Kita sudah minta Pertamina untuk melakukan crash program sampai seterusnya untuk mengurangi stok yang tersisa ini," tambahnya.
Sementara Dirut Pertamina Ari Soemarno dalam acara Editors Club, di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis malam (19/6/2008) mengaku bingung dengan tudingan BP Migas.
"Yang punya kita itu jumlahnya 2,1 juta dan itu sudah disepakati BP Migas, tapi tiba-tiba di media Kepala BP Migas bilang 11 juta angka dari mana itu," tanya Ari.
Memang kata Ari ada timbunan minyak hasil produksi (lifting) yang belum diangkut Pertamina jumlahnya 2,1 juta yang tersebar di 15 lokasi yang jauh-jauh. Kewajiban pengangkatan 2,1 juta barel itu kata Ari sedang dalam proses pengangkatan dan akan selesai dalam waktu dekat.
"Kalau kita ambil itu datanya tercatat dan transparan ada berita serah terima," ujar Ari.
Ari menduga kemungkinan kriteria lifting berubah lagi yang semula minimal 2 meter dari tangki menjadi 1 meter dari tangki.
Ari menjelaskan dari jumlah lifting 900-an ribu barel per hari, jatah Pertamina sekitar 600-650 ribu barel per hari. "Jadi ada kewajiban juga dari Kontrak Production Sharing (KPS), kadang kita gak tahu yang jumlahnya KPS itu berapa," ungkap Ari.
(lih/ir)










































