RI Usul Sistem Penstabil Harga Minyak Dunia

RI Usul Sistem Penstabil Harga Minyak Dunia

- detikFinance
Senin, 23 Jun 2008 19:37 WIB
RI Usul Sistem Penstabil Harga Minyak Dunia
Jakarta - Indonesia mengusulkan dua hal dalam Forum Jeddah Energy Meeting yang digelar 22 Juni 2008 lalu. Pertama adalah mekanisme dan sistem yang mampu menstabilkan harga, dan kedua meminta agar dunia membantu negara kurang berkembang agar mudah memperoleh energi.
 
Demikian usul Indonesia yang disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam Forum Jeddah Energy Meeting yang digelar 22 Juni 2008, Jeddah.
 
"Diusulkan agar dibuat suatu mekanisme dan sistem yang mampu menstabilkan harga pada tingkat yang dapat diterima konsumen maupun produsen. Juga diusulkan agar dunia membantu negara kurang berkembang agar dapat memperoleh energi tanpa merusak struktur ekonomi mereka," kata Gubernur OPEC Maizar Rahman mengutip Purnomo dalam pesan singkat yang diterima wartawan, Senin (23/6/2008).
 
Ia melanjutkan, yang menderita dari kenaikan harga minyak adalah negara berkembang yang terbebani beban biaya energi yang juga membengkak.
 
"Negara berkembang sangat menderita atas beban biaya energi yang sangat tinggi dan dampak ini pada gilirannya akan menular ke negara maju dan ke seluruh dunia berupa pelambatan ekonomi," ujarnya mengutip lagi.
 
Maizar menambahkan, forum tersebut menyepakati bahwa kenaikan harga minyak disebabkan peningkatan permintaan, kurangnya kapasitas cadangan produksi minyak dan kapasitas kilang dunia.
 
"Tak hanya itu, lonjakan harga minyak juga dipicu faktor-faktor non fundamental seperti meningkatnya interaksi pasar minyak dan pasar finansial, sangat besarnya aliran uang ke pasar berjangka karena pelemahan dolar, kegiatan yang spekulatif," tambahnya.
 
Sementara di sektor hulu, Forum Jeddah tersebut juga sepakat untuk bekerja sama mendorong peningkatan investasi di seluruh mata rantai produksi minyak hulu dan hilir.
 
Peningkatan transparansi dalam pasar minyak, perbaikan regulasi pasar uang, penghilangan subsidi, peningkatan produksi minyak nabati, dan peningkatan efisiensi.
 
Sejalan usul Indonesia, forum juga sepakat membantu negara-negara miskin yang menderita karena kenaikan harga minyak, ke sesama antar lembaga-lembaga studi energi dunia, ke sesama antar perusahaan-sesama minyak dunia di bidang investasi, teknologi dan sumber daya manusia.
 
Jeddah Energy Meeting didakan atas undangan Raja Abdullah, Saudi Arabia, dihadiri PM Inggris Gordon Brown, Wakil Presiden Cina Shi Jen Beng dan 35 menteri energi, 32 CEO perusahaan-perusahaan minyak dunia dan organisasi-organisasi energi internasional, lembaga-lembaga keuangan dunia, perusahaan-perusahaan trading minyak.
(lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads