Demikian dikatakan Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin
Budi Dharmadi saat membuka pameran industri alat transportasi dan pendukungnya
di Departemen Perindustrian, Jakarta, Selasa (24/6/2008).
"Bantuan itu berupa dana tunai ataupun pelatihan ahli serta peningkatan desain
mesin guna merealisasikan transfer teknologi otomotif dari Jepang," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perindustrian (Depperin) Syarif Hidayat menjelaskan, usulan itu akan disampaikan
dalam kelompok kerja sebagai tindak lanjut kemitraan ekonomi RI-Jepang.
"Dana itu diusulkan secara bertahap dalam 5 tahun pertama sejak bergulirnya
kesepakatan kemitraan ekonomi tersebut," papar Syarif.
Indonesia dan Jepang akan meresmikan kerja sama Economic Partnership Agreement Indonesia Jepang (IJ-EPA) di Jepang pada 1 Juli mendatang.
Ketua Subworking Group Otomotif dalam EPA Gunadi Sindhuwinata, yang merupakan
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mengatakan sektor hulu industri otomotif masih belum berkembang optimal.
Kemampuan desain mesin dan cetakan, penguasaan teknologi mesin, serta riset mesin beserta komponen otomotif nasional masih rendah.
"Usulan dana itu tak akan berarti jika program-program dalam working group
dibuat tidak tepat sasaran," ujar Gunadi.
Menurutnya jika EPA ditujukan hanya untuk membuka akses pasar melalui skema
penurunan tarif bea masuk, Indonesia bakal merugi. Apalagi jika produk Indonesia
dipaksa bersaing dengan Jepang yang menjadi salah satu negara terkuat dalam hal
industri manufaktur.
"Indonesia mestinya tidak hanya menjadi pasar. EPA harus menciptakan nilai
tambah untuk negeri ini," katanya.
Dalam EPA tercantum 85% bea masuk komponen asal Jepang telah dihapuskan dan terdapat 35% komponen asal Indonesia yang bisa masuk Jepang tanpa syarat.
Oleh karena itu kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh para pengusaha dan
industrialis agar dapat berperan dan mendapatkan manfaat ekonomi.
Pertumbuhan industri otomotif pada 2007 mencapai 11,5% dan diprediksi pada 2008
dapat meningkat menjadi 12,6%. Sasaran jangka menengah industri otomotif adalah
tercapainya kemampuan pasok industri komponen sebesar 80% untuk industri
perakit kendaraan bermotor roda 4 baik sedan maupun truk ringan.
(arn/ddn)











































