Depperin Berharap PT Prima dan Adidas Berdamai

Depperin Berharap PT Prima dan Adidas Berdamai

- detikFinance
Selasa, 24 Jun 2008 18:27 WIB
Depperin Berharap PT Prima dan Adidas Berdamai
Jakarta - Departemen Perindustrian (Depperin) meminta kasus antara Adidas dan PT Prima Inreksa Industries diselesaikan dengan damai mengingat masih menariknya industri sepatu di tanah air.

"Saya harap Adidas dan Prima ini dapat diselesaikan dengan baik mengingat permintaan sepatu kets atau sepatu olahraga luar biasa," ujar Menperin Fahmi Idris ketika ditemui di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (24/6/2008).

Menurut Fahmi, masalah ini muncul karena adanya mismanagement di PT Prima. Adidas tidak ada kaitannya karena perusahaan sepatu internasional itu merasa tidak menghentikan kontrak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalahnya Prima itu punya outstanding di Bank BNI yang cukup besar, outstanding-nya dengan suplier. Ini lebih ke manajemen keuangan PT Prima," ujarnya.

Fahmi menceritakan pada Juni 2007 manajemen Prima dipimpin langsung oleh pimpinannya yakni Endang Ibnu Sutowo datang ke Depperin. Mereka mengadakan pertemuan dengan Dirut BNI waktu itu yakni Sigit Pranomo.

"Waktu itu saya minta Pak Sigit mau menerima manajemen itu dan menyelesaikan masalahnya agar tetap terpelihara hubungan antara perusahaan dan Adidas sehingga bisnis tetap jalan, buruh tidak kena PHK. Akhirnya hubungan dengan BNI dengan Prima tetap dilanjutkan," urai Fahmi.

Namun kini terjadi lagi masalah keuangan di Prima sehingga perusahaan sepatu berbasis di Tangerang itu tidak sanggup memenuhi pesanan Adidas.

"Intinya apabila segitiga antara Prima dengan BNI dan Prima dengan suplier dapat diselesaikan maka selesailah masalahnya," ujarnya.

Fahmi pun mengaku akhir-akhir ini pihaknya sudah bertemu dengan manajemen Adidas 3 kali dan Adidas tetap berkomitmen untuk melakukan order ke Indonesia.

Secara umum, lanjut Fahmi, industri sepatu adalah industri yang masuk kategori foot lose artinya gampang pindah-pindah.

"Agar dapat bertahan harus mengamankan kedua belah pihak, pihak prinsipal inginnya kualitas dan kepastian suplai sedangkan pihak perusahaan yang diberikan order harus memenuhi persyaratan," ujarnya.

Perusahaan yang mendapat order di indonesia selalu komplain karena tipisnya margin, ketatnya kontrol kualitas dan mudahnya terputus kontrak. "Apalagi bagi yang nakal mudah lari," ujarnya.
(ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads