Permintaan biofuel kini terus digenjot karena negara-negara maju di dunia sedang berjuang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak sekaligus memangkas emisi karbon dioksida.
Namun disisi lain, biofuel sekaligus memicu kelangkaan bijih-bijihan yang merupakan bahan bakunya, sehingga menyebabkan harganya kian melambung setinggi langit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oxfam menyerukan negara-negara kaya untuk membongkar subsidi biofuelnya sekaligus mengurangi tarif impor. Negara-negara kaya juga didesak untuk merevisi target biofuelnya, termasuk rencana Uni Eropa untuk menggantikan 10% BBM dengan biofuel hingga tahun 2020.
"Negara-negara kaya membelanjakan US$ 15 miliar tahun lalu untuk mendukung biofuel sementara mereka juga memblokade ethanol dari Brazil yang lebih murah, yang berarti sedikit banyak telah merusak keamanan pasokan pangan dunia," tulis laporan Oxfam tersebut.
Oxfam memperkirakan pada tahun 2020, emisi CO2 akibat pengalihan lahan untuk perkebunan CPO kemungkinan akan mencapai 3,1 miliar ton, mayoritas berasal dari target Uni Eropa. Dan perlu 46 tahun untuk membayar 'utang karbon' dari capaian target penggunaan biofuel pada level tahun 2020 tersebut.
"Biofuel mengambil alih lahan pertanian dan memaksa pengalihan lahan yang penting untuk pengurangan karbon seperti hutan dan tanah basah. Ini akan memicu pelepasan karbon dari tanah dan tumbuh-tumbuhan dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membayarnya," jelas Oxfam dalam laporannya.
(qom/ir)










































