Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/6/2008).
"Bagi kami itu sangat menakutkan bagi kita, anarkisme itu. Pengusaha-pengusaha menanyakan pada saya, ini bisa terjadi seperti 10 tahun lalu tidak? Tapi untung ini bisa dicegah sehingga kekhawatiran tidak terjadi," ungkap Sofjan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga ditanya oleh pengusaha luar negeri karena masuk BBC dan CNN, ada apalagi di negara you? Ini sangat merugikan," tegasnya.
Sofjan meminta agar mahasiswa yang merupakan kaum intelektual tidak melakukan aksi demo yang anarkis. Dengan anarkisme itu, mahasiswa justru bisa menuai kecaman karena tak lebih dari seorang preman.
"Mahasiwa kan calon intelektual, jangan anarki, apapun you boleh nggak senang, permintaan you tidak diterima tapi akhirnya rakyat merasa you sama saja dengan preman-preman yang lain, itu harus kita cegah, itu tidak boleh dilakukan mahasiswa," sarannya.
Aksi bakar membakar yang dilakukan oknum mahasiswa juga dinilai Sofjan kontraproduktif dengan apa yang mereka perjuangkan.
"Tadi malam saya selalu ditelpon, yang menanyakan perkembangan. Saya takut sekali, orang tahulah ini politik. Ini belum waktunya, tapi sudah mulai panas," ujarnya blak-blakan.
Namun Sofjan merasa yakin aksi demo ini tidak akan mengulangi kerusuhan di tahun 1998. Alasannya, demo ini hanya dilakukan oleh sekelompok kecil, dan tidak massal seperti kejadian 10 tahun silam.
"Saya rasa tidak, karena kelompoknya hanya kecil, 1000 atau 2000 orang. Tapi saya kaget kok ditunggangi dengan yang brutal, jalan tol dirusak, mobil dibakar, itu preman bukan mahasiswa," pungkasnya.
(qom/ir)











































